Halaman

Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Mei 2013

Movie-Inspired Travel Destination

Did I tell you already that I would like to travel the world? Countless perhaps.And I would like to state it again and again.

Siapa sih yang nggak pengen jalan-jalan keliling dunia? Apalagi kalau lagi nonton film dan settingnya bagus. Wihhh bisa semaleman nggak tidur gara-gara mupeng pengen kesana.

Nah berikut ini adalah film-film yang menginspirasi saya  untuk berani bermimpi traveling ke tempat-tempat tersebut. Nggak hanya  sekedar sampai di suatu negara atau kota.  Namun lebih spesifik lagi, mengunjungi lokasi adegan film itu diambil kalo perlu. Dan alhamdulillah-nya dari sebuah mimpi dan kecintaan saya pada film beberapa sudah berhasil saya kunjungi.

1. Ratatouille

Hah? Animasi? Ciyuss? Eitsss jangan salah ya!Justru keinginan saya untuk menikmati indahnya the City of Love, Paris, memuncak ketika menonton film ini. The music, the lights and the foods are just perfectly illustrated! Walaupun jenis kulinernya masih kalah populer dibanding Italia, tapi merupakan suatu kebanggaan tersendiri jika bisa menikmati kota Paris sambil duduk-duduk Parisian Cafe. Meskipun cuma minum kopi dan mencicipi croisant sambil ditemani street musican yang maininin accordian. C'est Magnificent!


2. The Beach

Masih inget kan filmnya Leonardo Di Caprio yang sempet bikin heboh gara-gara syuting di Asia Tenggara? Yes, it was in Maya Beach, Thailand. Saat itu Leonardo yang melejit gara-gara Titanic tentu aja bikin film ini sukses secara finansial. Meskipun kritikus ngasih rating rendah buat filmnya dan menuai banyak protes karena merusak alam di sekitar tempat syuting.

Keistimewaan tempat ini adalah pantai pasir putih  yang hampir 70%  dikelilingi bukit-bukit batu  yang tinggi. Makanya dengan dramatisasi cerita, Maya Beach ini digambarkan seakan-akan harta karun yang tersembunyi dan jauh dari jaungkauan manusia. Karena ketenarannya justru yang saya dapati disana bukan keindahannya melainkan puluhan speedboat dan ribuan turis yang memenuhi bibir pantai. Sampai saya bingung mau ambil satu foto tanpa bocor itu susah sekali. Tak jauh dari Maya Beach ini terdapat  James Bond Island yang dinamai sesuai film James Bond yang syuting disana. Saya sendiri tak sempat mengunjunginya dan belum lihat filmnya juga. Film-film yang syuting di tempat yang belum populer seperti ini memang memberi dampak wisata bagi masyarakat sekitar. Nyatanya meski film The Beach tersebut tidak begitu bagus, cafe-cafe di Pulau Phi-Phi masih memutar film tersebut pada hari-hari tertentu hingga hari ini.


3. Billy Elliot


Coba tebak berapa kali saya nonton film ini? Hmm sayapun tak ingat, tapi yang pasti tak pernah bosan! Sebenarnya saya bukannya ingin berkunjung ke Durham, Inggris Utara gara-gara menonton film ini. Tapi pengen ke London buat nonton versi musikalnya di Victoria Palace Theatre, Victoria Street, London, SW1E 5EA. Aransemen musiknya sendiri di-arranged oleh Elton John dan teatrical actnya sendiri udah menangin beberapa awards. Sebenernya tiketnya nggak begitu mahal, sama sih kaya ke Universal Studio. Disneylan 400-500ribu. Tapi tiket pesawatnya ke London itu lhoooooo! Ada yang mau beliin?

4. Before Sunrise and Before Sunset


Dua film yang bakal ada sequelnya dalam waktu dekat ini kayaknya kalo dibahas satu-satu nggak bakalan selesai semaleman. Dari Austria, sampai cruising menyusuri Sungai Seine sambil memandangi Gereja Notredam! Damn! Kalo keliling eropa ada kitabnya, mereka itu udah khatam deh. Yang paling menginspirasi saya dari film ini sebenernya adalah "Train Travel'. Justru awal film itu bermula, menyusuri Eropa dengan kereta , bertemu orang asing dan ngobrol ngalor ngidul lalu memutuskan memulai petualangan baru. :')

5. The Dark Knight


Disela-sela lokasi utamanya di Gotham City, justru adegan yang paling keren dan paling saya suka adalah ketika Bruce Wayn diam-diam ke HongKong untuk 'menculik' mafia yang kebal ekstradisi. Dari atap gedung Batman yang notabene sendirian harus terjun ke ruangan si mafia tadi ngelewatin penjaga yang bersenjata. Nah di atap gedung tadilah keliatan bahwa itu Bank of China Tower di Hongkong Island. Kalau ketinggian sih masih banyak yang lebih tinggi, tapi desain lampu yang menyerupai rangkaian huruf X yang membuat bangunan ini mudah dikenali. Padahal menurut kepercayaan masyarakat disana justru fengshui-nya kurang bagus. Tapi memang ketika saya berada di Tsim Sa Tsui memandangi Symphony of Light, gedung ini adalah salah satu yang paling mencolok diantara yang lain.

6. The Lives of Others (German: Das Leben der Anderen)

Selain emang demen ama film-film yang berbau Nazi, saya pas nonton film itu lagi keranjingan belajar bahasa Jerman. Ceritanya tentang seorang mata-mata terbaik Gestapo yang ditugaskan memata-matai seorang penulis novel. Sebelum tembok Berlin dihancurkan, Jerman Timur emang parno sama yang namanya kesenian. Karena kesenian dianggap dapat membangkitkan perlawanan dan pembangkangan. Duh! Bukannya benci, lama-lama si polisi ini justru 'jatuh cinta' dpada karya-karya dan kehidupan penulis itu. Disaat si penulis terpengaruh untuk membangkang si polisi ini justru menutup-nutupi dari atasannya. Nah adegan akhir di film inilah yang paling bagus, menyentuh, sekaligus bersemiotika paling dalam. Saya nggak mau bocorin spoiler ya. Yang pasti saya jadi pengen banget berkunjung ke toko buku bernama 'Karl Marx Buchhandlung ini di Berlin. Someday: Amin! :)

7. Eat Pray Love

Every traveler knows Bali, but not everyone of them knows Indonesia. Itu sudah rahasia umum. Sebenernya sebel juga sih kalau justru orang asing yang mengekspos kekayaan negeri kita, bukan pemerintahnya. Tapi saya lagi males ah ngeabahas ketidakbecusan pemerintah kita. Gara-gara film tersebutlah saya tahu kalau Padang-Padang Beach ada di Bali selain Kuta dan Sanur, lalu memutuskan untuk berkunjung kesana. Dan benar ternyata informasinya belum begitu tersebar di negeri ini. Karena pada kenyataanya 90% wisatawan asing yang menikmati keindahan alam yang eksotis itu. Sebenarnya suatu keuntungan sendiri bagi kita ketika ada film di Hollywood ambil lokasi disini. Tapi plis ya jangan ada lagi berita pemalakan oleh petugas beacukai di bandara ntar mereka kapok dateng!


Well itu tadi 7 film yang sukses cukup besar pengaruhnya untuk bikin saya nekat 'mbolang' buat ngeliat aselinya. Kalau kamu apa? Siapa tau aku jadi pengen juga. Hihihi :)

Selasa, 26 Maret 2013

The Art of Dying





Everybody is going to die eventually. Sooner or later. But how we’re gonna die: that is the question. It’s not up to us to choose and believe me, it’s never a fancy choice. Will we enjoy the last moment of or live or are we going to endure it with remorse? The wonders popped out after I watched a movies recently. Untouchable (les Intouchables, 2011) the protagonists in the movies suffer from severe paralysis.


Saya awalnya nggak menyangka kalau ini film drama komedi, soalnya film ini dibuka dengan aksi kebut-kebutan antara mobil sport berisi pengendara kulit hitam dan penumpang berjenggot bak pimpinan Al-Qaeda, dengan polisi. Apalagi pake bahasa Perancis filmnya, makin sangsi bakal sebagus film action ala Hollywood. Tapi ternyata saya salah! Yang ada dari awal film sampe akhir  nggak bisa berhenti ngakak saking konyolnya ni film.

Cerita pun kemudian berjalan mundur, kembali ke awal bagaimana si pengendara kulit hitam tadi yang bernama Driss bertemu si Osama-look-alike (Philipe). Saat itu si Phillipe belum jenggotan, dan ternyata orang kaya raya di Perancis. Sayangnya si Phillipe ini lumpuh akibat kecelakaan sewaktu paragliding. Lumpuhnya nggak kaki aja, tapi semua bagian tubuh dari leher kebawah makanya disebut Quadriplegic. Untungnya dia kaya raya sih jadi masih bisa beli kursi roda canggih yang digerakkan dengan gigitan, walaupun juga nggak beruntung sih ya nggak bisa ngapa-ngapain tanpa bantuan orang lain. Jadilah dia meng-audisi perawat-perawat tadi buat ngurus dia, dari mandiin, gantiin baju, yang mana butuh proses ngangkat, nggendong yang kayaknya mission impossible buat dilakukan wanita. Maka yang diaudisi emang cowok-cowok. Karena si Phillipe ini juga agak temperamen,  selama ini nggak ada perawat yang betah lama, jadi bisa ditebak ini audisi yang kesekian.

Si Driss sebenernya juga nggak niat audisi, dia cuma cari bukti buat dia udah hadir di interview buat dapetin ‘welfare benefit’ -- semacam JPS gitu kali yak. Nah si Driss ini karena emang nggak punya pendidikan tinggi dan berasal dari daerah kumuh  asal nyelonong masuk ke ruangan Phillipe walaupun belum dipanggil. Tapi karena sifat urakan ini lah yang bikin si Phillipe justru nerima si Driss. Jadilah kisah bromance antara seorang Millionaire yang well-mannered dan perawatnya yang nggak tau aturan. Dari majikan sama perawat jadi sahabat yang nggak terpisahkan.

Nonton film ini bikin emosi kita dibolak-balik. Kadang lucu, sejurus kemudian mengharukan. Yang  paling lucu menurutku itu adegan di dalam gedung opera, adegan ulang tahun Phillipe, adegan shaving Phillipe’s beard, adegan di dalam private Gulfstream. Ah semuanya kali ya, I cant decide! Yang pasti saya bisa ambil pelajaran, dalam setiap persahabatan yang tulus bisa menambah harapan hidup seseorang.:')

Setelah saya googling ini film ternyata berdasae dari kisah nyata yang didramatisasi. Dulu si Phillipe yang asli selalu ogah kisahnya difilmin karena dia nggak mau orang suka karena kasihan sama dia. Tapi karena film garapan Oliver Nakache ini ambil dari segi komedi dan persahabatannya, akhirnya dia setuju dan katanya sih dia puas banget sama hasilnya. Saya pun sangat puas! Beruntung bisa dipertemukan dengan film yang dinominasikan Golden Globe Award tahun 2011 sebagai Best Foreign Language Film. Dan yang pasti saya jadi  tambah niat belajar Bahasa Perancis deh . Profitez-en! :p 


Jumat, 20 Juli 2012

TDKR : Awesomeness is the only word that can describe!

If you haven’t seen Christopher Nolan’s Batman trilogy, then you should! But my advice is to watch from the initiation of the installment which is Batman Begin in order to comprehend the whole idea of the epic closing. If you feel lazy, well a few flashback details can’t hurt you, I supposed.

I’m not a DC fanboy nor a Marvel’s. I am moviefora, ‘all the good movies’ fan. But if you find a ‘popcorn’ entertainment, with “punch line slash hi-tech action slash punch line” formula, better be lower your standard, or simply go watch the Avengers. I watched the Stark’s gang without expectation, fun in the process, sleep tight that night, and forgot in the following day. Yet different sensation is offered in TDKR. In a line with previous Nolan’s works, it is absolutely dark movie with intense storytelling, hyper-reality suspense and surprises. Rather than to seek joy, watching TDKR and its brothers is intended to enjoy the tortures to human psychology. This is why they omit ‘Batman’ word in the movie title since it is not designed for young audiences. The hero is visualized as weak, vulnerable, in despair and is signified as the ‘bad' guy: while the antagonist is strong, unbeatable, and righteously forces to amend the law should be pure and raw, not based on lies (as Batman and Jim Gordon conspired in Harvey Dent’s death in TDK). This is modified implementation of Aristotle’s Mimesis and Jean Baudrillard’s theory of Hyper-reality. It brings confusion to the audience though Bruce Wayne's intention was good, yet can his outlaw action be justified? The ‘purging effect’ comes after pity and fear. As it could be enjoy sweetly right on the ‘dénouement’ phase. It brought me tears of joy as well as pain when the movie ends. And sadly, it made me wide awake tonight. I missed Gotham already. 

Detached from the movie, many fans stormed out. Flaming on every bad review written for this movie. I can’t agree on verbal aggression though. Yet I have to disagree with the critic who said that the terror caused by Heath Ledger’s (deceased) Joker in The Dark Knight was way much better than all the threats the TDKR combined. I can’t see the point of negative review by comparing acting quality with the dead. What must be appreciated, I think, is Nolan has successfully maintained his quality in movie-directing. Many big-budgeted movie franchises (non-novel adaptation) has flopped its level as we saw in Transformer 2 and Transformer 3. And It took 4 years to finish this installment, proof that Nolan’s idealism in making a fine masterpiece is not merely money orientation, but also his idealism as movie engineer. And it is obvious that the director’s darlings that are predicted to constantly cooperate in his future film are the finest as Christian Bale (the Prestige, Batman Begin, TDK, TDKR) Marion Cotillard (Inception, TDKR) and Joseph Gordon-Levitt (Inception , TDKR).

Although I can say it’s 90/100 rated movie, no movie is perfect. I have, again, to detest Hollywood commodification of women, especially for their roles in the TDKR. I can't explain further as it will spoil the crucial plot, sorry. But  In the end, after watching The Dark Knight Rises, I made myself not only Batman’s fans yet to be Nolan’s as well. Bravo!

Jumat, 10 Februari 2012

Penonton Film Lokal : Kemana Perginya?

Saya bukan sineas apalagi artis yang dirugikan dengan adanya masalah ini. Tapi  saya yakin saya  termasuk moviegoers, penikmat film dengan rata-rata 100 judul film setahun. Sebut saja judul film, kemungkinan saya sudah pernah nonton, atau mentok baca resensinya. 

Bagi pecinta film, menonton film di bioskop adalah suatu kebanggan tersendiri. Terlebih jika film tersebut punya special effect dan sound yang membuat penonton berdecak kagum, seperti film Avatar (James Cameron) misalnya. Pasti hari-hari pertama pemutaran merupakan pertarungan hidup dan mati untuk mendapatkan tiket. Dan  rasanya mengeluarkan uang Rp. 30.000 atau lebih itu sebanding. Saya sendiri pernah beli lewat calo saking pengennya nonton salah satu Box Office Hollywood tapi nggak dapet tiket. Well, bukan contoh yang patut ditiru, sih.

Kenapa saya jadi aware tentang film lokal? Padahal saya sendiri bukan 'big fans' of local film industry.Tahun kemarin saja cuma 2 film lokal yang saya tonton di bioskop. Salah satunya Catatan HArian Si Boy, itupun karena saya ngefans sama news-anchor Timothy Marbun, karena dia yang nulis story developmentnya. Karena pengaruh dan gembar-gembor di timeline twitter, sayapun jadi ikutan menyeret sahabat saya, Ikrar, buat nonton (latah juga ya saya). Dan ternyata memang tidak mengecewakan, malah saya harus puji acting dan soundtracknya sangat kuat meskipun kekurangannya masih aja memakai komodity 'banci' sebagai sumber kelucuan. Oh how i miss the silly Warkop DKI. Film lainnya yang saya tonton adalah Garuda di Dadaku 2, itupun karena terpaksa nemenin si adek yang ngotot pengen liat. Ceritanya? Well terkesan biasa saja, tentang gimana harusnya jadi kapten timnas U-13 yang benar dibawah tekanan pelatih, pemegang saham, rival yang juga tangguh, tapi lumayan sih ada adegan Rio Dewanto shirtless. hehe :p 
Back to the topic. Akhir-akhir ini banyak produser maupun sutradara film lokal yang 'curhat' di social media bahwa penonton film lokal di bioskop semakin mengenaskan. Hal tersebut menarik minat keingintahuan saya, karena saya sendiri pun termasuk salah seorang yang 'murtad' dari produk dalam negeri. Ampun DiJehhh!



Menurut data yang ditunjukkan di FilmIndonesia.or.id memang terlihat penurunan yang cukup signifikan. Awalnya saya sempat berfikir, apakah ini merupakan tanda-tanda awal dari evolusi intelektual penonton film lokal yang jenuh dengan tema-tema yang itu-itu saja. Namun melihat judul-judul film horor yang masih bertengger di puncak, saya menyadari pikiran saya terlalu naif. Film yang mengeksploitasi perempuan berkutang / ber-hotpants memang masih merupakan komoditi yang paling diminati. Seperti yang saya lihat sendiri di film Garuda di Dadaku, physical exposure merupakan daya tarik kuat untuk mengundang penonton, tidak peduli itu adalah film anak-anak atau bukan.

Di negara yang kolektifitas dan figuritas masih tinggi ini, pendapat beberapa orang saja bisa berpengaruh pada penjualan film. Film yang ditonton oleh presiden/menteri misalnya, akan mengundang 'semut-semut' lain untuk datang ke bioskop. Akhirnya ketika film tersebut tidak sesuai harapan, penonton tidak akan percaya lagi dan semacam membuat stereotype yang kelak membuatnya malas menonton film yang dihadiri pejabat. Saya sendiri salah seorang dari banyak orang yang 'menganggap Film Laskar Pelangi is overrated. Bagus tapi biasa saja, walaupun memang jauh lebih mendidik dari film Ayat-Ayat Cinta. Tapi tidak lantas satu subyek itu bagus untuk dieksploitasi secara habis-habisan, Musical Laskar Pelangi, Sountrack CD, dan sekarang sinetronnya? Nggak kaget dan nggak menyalahkan penontonnya kalau sinetronnya flop di pasaran, dengan rating yang lebih rendah dari acara Musik Lipsinc di pagi hari. Walaupun dikemas dengan pemain berbeda, you tell me, anak kecil aja bisa bilang bosan liat Spongebob Squarepants yang diulang-ulang di Global TV. Kalau film di bioskop sama FTV yang beda cuma kualitas gambar dan settingnya aja, lalu kenapa harus capek-capek  dan keluar uang ke bioskop?

Menonton film Indonesia saat ini memang seperti menonton film Hollywood 20 tahun yang lalu.  Saya nggak lihat dari spesial effect/teknologinya lho ya, that's absurd. Tapi liat aja penceritaan yang shallow dan mudah ditebak. Kalo film bagus itu harus berbudget tinggi, nggak bener juga. Baru kemarin saya menonton film Chronicle. Film tentang superhuman (lagi), sudah berapa ratus kali sih dijadiin film di Hollywood? Apalagi di 'Tahun Superhero ini'; Sebut saja Spiderman 4, The Avenger, dan Batman, banyak superpower-human-themed movie yang bakal bertarung di bioskop=bioskop musim panas tahun ini. Namun film  Chronicle dengan budget  $ 12 juta sudah balik modal di minggu pertamanya diputar. Ceritanya simple tapi deep, remaja biasa yang nggak populer, dapet superpower~ berapa dari kita sih yang bakal berpikir mendedikasikan diri kita buat nyalemetin orang - nangkepin penjahat? Lebih masuk akal kan kita bakal pake tu power buat ngerjain orang dan sesuatu yang menguntungkan kita. Perubahan psikologis dan akibat yang ditimbulkannya lah yang menjadi highlight dalam film tersebut . Mengenai mitos artis papan atas filmnya pasti laris, wait, siapa sih Dane DeHaan, Alex Russell di film Chronicle? Ada yang tahu? Nyatanya, nobody-knows actors juga bisa lho bisa bikin film bagus. Saya mungkin bisa juga diajak. Uhuk... *colek filmmaker di seluruh penjuru Indonesia

Untuk senias dan insan perfilman lokal, menurut saya pribadi, tema yang diulang nggak masalah, namun kedalaman dan sudut pandang penceritaanlah yang harus diubah. Dan untuk seluruh penonton, hal utama yang harus diubah adalah pola pikir bahwa menonton itu nggak perlu pendapat orang lain.  Bagus/nggaknya itu masalah selera, seperti makanan, nggak bisa dipaksakan. Jujur aja dalam hati, ketika ada temen yang ngereview filmnya jelek, berapa dari kalian sih yang bakal tetep nonton? Atau ketika temen bilang bagus banget ternyata pas diliat biasa aja/ malah jelek? Satu pendapat 'Ah filmnya nggak bagus' ternyata bisa menghancukan reputasi suatu film karena emang karakter masyarakat  yang latah dan masih  tergantung pendapat orang lain. Nggak ada yang suka tuh, sama The Holiday sama Bridge to Terabithia, kritikus Holywood juga nggak suka, nggak dapet Oscar/GoldenGlobes,  tapi saya bisa nonton puluhan kali tanpa rasa bosan. Jadi mulai sekarang sebaiknya kalau ada yang tantya' Filmnya bagus nggak?' mulailah menjawab dengan bijak 'Tonton sendiri aja, terus kita liat  ntar pendapat kita sama enggak.' Deal? :)

Setidaknya tahun ini masih optimis bakal ada film lokal yang bakal kutonton, salah satunya film lokal Soegija karya Garin Nugroho. Film kolosal tentang pahlawan Soegijaprananta yang rencananya tayang pertengahan tahun ini. (penasaran jadinya kaya gimana soalnya sempet terlibat dalam juga pembuatanya-hehehehe :p ) Dan juga satu film blasteran yang sudah heboh dari sekarang. Kenapa Blasteran? Sutradaranya bule Irlandia, tapi produser, artis, dan setting domestik aja. :p Yupe, film The Raid, yang katanya bikin kejang-kejang kritikus di screening film Internasional saking bagusnya. Sampe media sekaliber The Guardian aja ngejek Quentin Tarantino kalo film-filmnya yang super-gore masih kalah sama The Raid ini. Shoot! Jadi penasaran dan sekaligus bangga juga! Masa film Inglorious Basterd sekeren itu kalah ma film lokal. Nah momen dimana film-film lokal Indonesia lagi dilirik sama Hollywood buat diremake ini mungkin nggak terjadi dua kali. Jadi, yang pasti jangan sampe film lokal mati suri lagi ya! Jangan layu sebelum berkembang. Nggak usah muluk-muluk mo bikin film bermutu buat nyelametin keterpurukannya. Untuk meningkatkan awareness boleh loh dimulai dari kirim surat sama Punjabi bersaudara supaya stop produserin film horor nggak bermutu, tulis di blog, atau seperti saya bikin tulisan di fesbuk gini, kalo belum pede buat nulis, ini tulisan di-share dulu juga boleh, kok! :)

Kalo menurut kamu kenapa apa yang bikin males nonton film lokal? Kasih tau aku ya? Mungkin nanti aku bisa sampein ke film-maker lokal  biar pendapat kamu didengar. :)

Reference: http://filmindonesia.or.id/movie/viewers#.TzXcOMX9PSk
                 http://www.imdb.com/title/tt1706593/

Jumat, 09 Desember 2011

On the making of Soegija The Movie

Bulan ini saya dapet job buat nyari + nge-LO bule buat jadi extra proyek terbaru Garin Nugroho. Nggak tanggung-tanggung mereka minta saya buat nyari sekitaran 30 bule dalam berbagai umur. Dan  betapa susahnya mencari bule Caucasian look alike buat jadi peran tentara/keluarga kumpeni, masuk ke forum Expat, atau bagaimana bule-bule itu saklek dan nggak butuh duit walaupun payment yang menurut saya lumayan banget untuk ukuran sehari. Kalo orang Indonesia mah ditawarin syuting+dibayar tinggi rata-rata pasti ijin sekolah ato kerja yak. Masalah  kembali lagi ke etos kerja, sodara-sodara.




Nah! Penasaran dengan filmnya, saya pun nyari info-insider tentang film kolosal yang konon ber-budget sampe 25 Milyar ini. Film yang berjudul Soegija  ini merupakan singkatan dari Soegijaprananta. Saya yang awam ini juga hanya pernah mendengar nama tersebut dari nama sebuah perguruan tinggi di Semarang, UNIKA Soegijaprananta. Ternyata setelah googling sana sini, beliau ini salah seorang pahlawan Nasional lho. Selain itu fakta menarik lainnya adalah beliau ini seorang uskup agung yang pertama dan terakhir kalinya diangkat oleh Vatikan. Dalam sebuah artikel Paus Paul Vi sendiri yang mengirimkan telegram pengangkatannya.




 Berdasarkan fakta itu, film Soegija ini mengambil jalan cerita tentang perjuangan melawan politik devide et Empera ala VOC dimata dan di masa kehidupan seorang uskup agung, Soegijaprananta. Sepertinya menarik apalagi tentu saja ada bumbu cerita percintaan yang klise antara gadis ndeso pribumi Mariyem dan seorang jurnalis mancanegara bernama Hendrick (Wouter Braaf). And lucky Mariem! Yang perannya dimainkan oleh pendatang baru asal Bantul dan gosipnya ngalahin casting artis-artis ibukota, diperankan oleh remaja bernama Annisa Hertami Kusumastuti. Tapi emang keliatan njawani dan kalem sih orangnya! 


Pengisi peran Hendick sendiri langsung di datangkan dari Negara aslinya Belanda sono, Wouter Braaf, seorang artis soap opera. Saya sendiri beruntung bisa ketemu langsung dengan sosok Wouter Braaf, walaupun mungkin dia juga bukan seleb sekelas Hollywood tapi tetep auranyanya laki banget berwibawa. Yang saya salut dari dia, dia kayaknya cukup belajar local genius setempat, nggak kagok, humoris, mau bercanda dan berbaur sama kru, cuman pake shorts  n kaos oblong +jaket kulit n kacana tapi uwooo~ kece abeees bo' ƪ(♥ε♥)ʃ


Seperti apa filmya nanti? Well saya denger sih hari ini hari terakhir mereka syuting. Dan baru akan masuk bioskop pertengahan tahun depan nanti. Saya sendiri sih pasti bakal nonton barengan temen-temen bule yang hari itu syuting di Muium Kereta Api Ambarawa sampai jam 2 pagi. Heuheuheu