Halaman

Tampilkan postingan dengan label backpackeran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label backpackeran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2016

Kejutan di Krabi


“Di mana gerangankah Krabi?” Hampir semua kawan yang mengetahui rencana saya berlibur ke Krabi mengernyitkan dahi, mencoba menebak-nebak di belahan bumi bagian mana Krabi berada. Orang Indonesia lebih akrab dengan kota-kota yang sudah populer duluan seperti Bangkok, Pattaya, dan Phuket. Padahal Krabi pun tak kalah cantiknya. Tak heran jika wisatawan mancanegara menyebutnya sebagai “tourist paradise”!
Memulai Perjalanan
Setelah transit di Kuala Lumpur, saya tiba di Phuket International Airport sekitar pukul setengah delapan pagi. Saat itu bandara masih sepi, namun hampir semua mobil di car rental sudah habis tersewa. Jadi pilihan terakhir untuk ke Krabi hanyalah dengan bus atau ferry. Sebagai informasi, bulan November-Februari adalah puncak kedatangan wisatawan di Phuket. Jika Anda berencana berlibur pada peak season, lebih baik reservasi tiket pesawat, penginapan, maupun mobil jauh-jauh hari.
Saya pun bergabung dengan wisatawan lainnya di halte bus bandara (semacam DAMRI). Seorang pria mendekati kami, lalu berkata bahwa bus bandara sedang tidak beroperasi hari ini. Sambil menunjuk nomor telepon di papan jadwal kedatangan bus yang jelas-jelas tertulis “BUS SERVES EVERYDAY”, dia meyakinkan kami untuk memastikan informasi yang dia berikan dengan menghubungi nomor tersebut. Kemudian pria tersebut menawarkan untuk menggunakan jasa taksinya—tentu saja dengan harga yang fantastis. Saya dan beberapa wisatawan dari Austria yang sama-sama menunggu bus hanya tersenyum dan bergantian menjawab, ‘No, thank you’, karena kami sama-sama tahu penipuan semacam itu sudah biasa di Thailand. Para scammer ini modusnya memberi informasi yang salah kemudian menawarkan jasa transportasi yang akhirnya mengarahkan ke tempat-tempat tertentu untuk berbelanja.
Seperti yang saya duga sebelumnya, setengah jam kemudian bus bandara tiba. Biayanya hanya 90 baht—sekitar seperlima dari harga yang ditawarkan sopir taksi penipu tadi. Tujuan bus ini hanya satu, yaitu Phuket Bus Terminal dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Namun setibanya di terminal, terdapat sejumlah bus dengan tujuan ke berbagai pantai maupun provinsi lain termasuk Krabi.
Walaupun informasi mengenai perjalanan dengan bus ke Krabi ini sangat terbatas, saya memutuskan tak ada salahnya mencoba. Opsi transportasi menggunakan ferry jauh lebih mahal dan membutuhkan waktu tempuh lebih lama, karena dari terminal saya harus menggunakan bus kecil menuju dermaga terlebih dahulu dengan jadwal keberangkatan yang tidak menentu. Sedangkan menurut informasi dari beberapa penduduk setempat, dari terminal yang sama saya bisa langsung menuju Krabi dengan bus rute Phuket- Hatyai yang siap berangkat tiap jamnya.
Saya akhirnya bertolak ke Krabi dengan bus bercat oranye tersebut. Tarifnya 130 baht dengan lama perjalanan sekitar tiga jam. Di luar ekspektasi, perjalanan sejauh 185 km itu sangat nyaman. Hampir tidak ada jalanan yang rusak, cukup sepi karena jarang ada kendaraan berpapasan, bus pun tidak berhenti mendadak maupun sembarangan. Beberapa perkampungan muslim khas Thailand bagian selatan, garis pantai, dan perbukitan kapur menjadi pemandangan utama selama perjalanan.
Krabi Town
Filosofi KepitingDalam perjalanan menuju hotel, lanskap dermaga Chao Fa yang  menarik menyambut saya. Kehadiran patung kepiting raksasa dengan latar sungai Khao Kha Nap menjadi daya tarik tersendiri bagi saya yang gemar berfoto. Patung kepiting tersebut tidak kalah unik dari patung hiu di River City, Bangkok. Selain indah, pemandangan di Chao Fa juga mengungkap fakta kota Krabi. Tertulis di atas ‘prasasti’ dua dimensi berbentuk kepiting, Krabi secara fonetis diucapkan sama dengan crab (kepiting) yang cara hidupnya memiliki filosofi, mewakili masyarakat Krabi.
Kapal-kapal cantik yang merapat di dermaga Chao Fa menawarkan berbagai tujuan menarik. Dari tur singkat mengelilingi perairan bakau di antara perbukitan kapur hingga ke Pulau Phi Phi dan berbagai tempat wisata lain yang sayang untuk dilewatkan.
Nederthal
Pemandangan unik di Thanon Road pun tak kalah menariknya. Di sisi jalan tersebut terdapat sebuah obyek semacam patung primata. Namun setelah dilihat dengan lebih saksama, sosok tersebut lebih mirip manusia purba yang menjinjing lampu lalu lintas. Menurut cerita, pada tahun 1986 ditemukan artefak manusia gua di Lang Rong Cave yang kemudian dianggap sebagai nenek moyang oleh masyarakat setempat. Lang Rong Cave sendiri terletak tak jauh dari Krabi Town, hanya saja butuh persiapan fisik yang lebih untuk menuju ke sana.
Sekitar 15 menit ke utara terdapat atraksi lain yaitu Tiger Cave Temple (Wat Tham Suea). Di dalam bangunan utama Tiger Cave Temple terdengar doa dari kitab Buddha yang dipanjatkan dalam teknik meditasi yang unik yaitu Vipassana. Pantulan suara di rongga-rongga gua menambah efek sendu setiap upacara. Di dindingnya tergantung gambar potongan jasad dan organ manusia yang berfungsi untuk mengingatkan para biksu agar fokus kepada hal-hal yang bersifat spiritual, karena hakikatnya tubuh bersifat fana. Yang lebih menarik, terdapat anak tangga sebanyak 1.200 buah untuk menuju ke atas bukit setinggi 125 meter di mana bekas telapak kaki Buddha konon berada. Masuk ke Tiger Cave Temple ini tidak dipungut biaya sama sekali namun kedermawanan pengunjung diharapkan dalam membantu proses renovasi.
Hotel tempat saya menginap berada di antara food market dan Krabi walking street. Sama seperti di Phuket, paket tur menuju Phi Phi Island juga  bisa di dapatkan di hotel maupun agen tur dengan harga rata-rata 1000 baht per orang. Saya juga mendapati kenyataan bahwa ternyata gugusan kepulauan di Phi Phi termasuk dalam kekayaan hayati milik Provinsi Krabi, begitu juga dengan 53 pulau kecil di gugusan Koh Lanta.
Hampir semua fasilitas yang ada di Phuket terdapat pula di Krabi, tentu saja minus suasananya yang ramai. Di setiap sudut Anda bisa menemukan convenience store, jasa laundry murah, serta street food stall yang menjual tom yum dan banana street pancake yang lezat. Mencari makanan halal pun tidak terlalu sulit karena hampir 50% dari populasi Krabi beragama Islam.
Wisata Pantai
Jarak dari Krabi Town menuju  Ao Nang, pantai terdekat, adalah sekitar 30 menit. Tiba di Ao Nang Road pada malam hari sedikit banyak mengingatkan akan nightlife di Patong. Beragam resto lokal, resto cepat saji, jasa tukar uang, hotel, resor, maupun hostel berjajar sepanjang jalan menuju pantai. Bar dan pub dengan iringan live band  maupun musik trance tampat berderet di Ao Nang Center Point Entertainment Complex.
Di bibir pantai Ao Nang sendiri banyak dive shop yang menawarkan pengalaman underwater di Bamboo Island, Poda Island, Hong Island, dan Phi Phi Island. Pantai di Ao Nang ini mirip dengan Kata, dengan pasir putih dan garis pantai yang lurus dan memanjang. Bedanya, tidak ada barisan sunbed yang memenuhi tepi-tepinya sehingga pantai tampak luas dan lapang.
Jika Ao Nang masih dirasa terlalu ramai, terdapat Railay Beach, pantai eksklusif terpisahkan tebing tinggi yang hanya bisa ditempuh dengan long tail boat. Lokasi Railay Beach yang tersembunyi menjadi tempat sempurna bagi mereka yang mencari suasana tenang. Tebing menjulang tinggi di Railay ini menjadikan surga bagi para climber dan adrenaline junkee. Daerah Railay bagian timur populer bagi para backpaker, sementara West Railay merupakan basis dari beberapa beach resort berbintang.
Setelah seharian snorkeling, kenyang menyantap seafood murah, dan capek berjalan, pilihan bersantai pun jatuh ke tempat pijat bernama Pu Body & Scrub Massage. Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam tapi masih banyak yang mengantri di luar. Saya mencoba Thai Massage dengan tarif 200 baht untuk 60 menit untuk menutup aktivitas.
Krabi dengan segala pesonanya membuat liburan saya lebih berwarna. Jika ingin ke pantai cantik berpasir putih namun sudah bosan berdesakan di keramaian, cobalah untuk mencari kejutan Anda sendiri di Krabi!

Tulisan ini pernah dimuat di website majalah Panorama

Sabtu, 11 Juni 2016

Field Report: 4D3N Bali + Nusa Lembongan (Day 2)

Setelah sampe di Hotel kita semua langsung tepar. Rencana buat ngeliat sunset di Sanur tinggal angan-angan soalnya kita semua bangunnya kesiangan. *nangis* Akhirnya selesai mandi, sarapan, beres-beres dan check out bertolaklah kami menuju Pantai Sanur. Bukan buat menlihat matahari kesiangan ya, telat! Tapi karena emang dermaga speedboat menuju Pulau Nusa Lembongan ada disana.

Sampai di temoat parkir mobil di Sanur berjalanlah kelurus sampai ke gerbang masuk lalu berbeloklah ke kiri. Di dekat kamar mandi umum ada papan keterangan harga tiket dari Sanur ke Nusa Lembongan maupun ke Nusa Penida. Jangan syok dulu lihat harganya, karena harga yang terpampang itu memang untuk turis mancanegara, untuk turis lokal seperti kami cukup dengan harga Rp.60.000 pulang pergi. Dalam sehari speedboat menuju Nusa Lembongan hanya beroperasi 2x jadi karena kami sudah booking hotel di Kuta maka kami langsung tolak sorenya pukul 15.00. So here we go...

Berangkat dari Sanur dengan speedboat dengan kapasitas 30 orang, rasa-rasanya justru berada di negeri orang deh. Karena penumpangnya hanya kami berempat dan kru kapal yang merupakan orang lokal, sisanya turis-turis mancanegara. Perjalanan membelah lautan dengan speed boat yang kadang membentur ombak harus dilewati dulu selama kurang lebih satu jam. Saya aja yang udah menyempatkan sarapan masih aja merasa mual, maka perjalanan ini sangat tidak disarankan untuk bumil.

Sesampainya di Jungut Batu, kapal kami merapat ke tanah baru baik di telinga maupun mata. Rupanya tak sia-sia kami pergi ke sini. Pasir putih dan refleksi langit biru di pantai yang tembus ke dasarnya menyambut kami. Setelah puas ber-narsis ria, petualangan pun kami lanjutkan dengan menyewa motor, satu-satunya pilihan transportasi disana. Jangan berharap bisa mampir ke mini market sewaktu-waktu kita lapar atau mengambil uang ketika persediaan habis ya. Datang kesini memang butuh persiapan matang dan bekal sebelum berangkat. Untungnya, kita sedia bekal makanan dan uang cash kemanapun.





Dalam perjalanan mengelilingi pulau seluas 3 hektar ini, kadang-kadang motor yang kami sewa seharga Rp. 50.000 per hari harus melewati jalan-jalan tanpa aspal. Namun semua itu terbayarkan karena hampir dimana-mana merupakan spot yang bagus untuk berfoto-foto. Tanpa disengaja, sampailah kami di Golden Reef Warung, tempat makan menghadap perairan landai di sekitar hutan bakau. Saya juga heran kenapa disebut warung, karena tempat ini terlalu cantik hampir sperti di sebuah resor! Setuju nggak?








Pemilik dari warung ajaib itu adalah Kapten Good (demikian beliau menyebut dirinya). Lelaki separuh baya asal desa setempat yang juga menggeluti usaha water activity. Beliau kemudian menawarkan kami snorkeling melewati Mangrove point dengan harga hanya Rp50.000 per orang. Setelah makan siang seafood yang lezat dan berfoto-foto di tepi warung istimewa ini kami pun setuju.

 Segera kami menuju kapal milik Kapten Good ini, dan mulailah kami melewati hutan bakau menuju lautan. Kapten Good juga sangat ramah, beliau mau saja lho kita mintain tolong fotoin, dari mulai pakai snorkel mask, sampe underwater. hehehe…Ditengah-tengah snorkeling, bahkan karena kebaikan kapten Good ini kami bisa mencoba Marine Walk saat itu juga tanpa harus reserve dengan harga 1 juta untuk 3 orang! Hihihi so lucky. Oh ya nggak lupa saya juga minta kartu namanya Capatain Good ini so buat kalian yang pengen booking bisa langsung kontak nomor dan email dibawah ini ya :0




Setelah puas main air akhirnya kami harus balik ke Pulau Bali, padahal masih banyak pantai di Nusa Lembongan yang belum kami datangi. Namun apa daya kapal menuju Sanur sudah menunggu di Jungut Batu. Akhirnya kamipun karena kecapaian tertidur dalam perjalanan kembali.

Sekitar pukul 4 Sore  kami sudah berada pusat keramaian Kuta. Hotel kedua kami adalah Pop Hotel Kuta. Walaupun hotelnya lebih baik dari yang di Denpasar (ada kolam renang)karena memang lebih tinggi ratenya Yang ternyata bukan pilihan yang bijak untuk menginap ketika kita menyewa mobil. Jalan menuju hotel sempit dan searah (Masuk ke dalam gang) Walaupun lokasi hotelnya juga luas. Mungkin penginapan disekitar situ emang ditujukan buat turis yang lebih banyak kemana-mana jalan kaki. Karena memang cukup dekat dengan pantai.

Tips: Kalau ingin menginap disini sewalah motor.


Akhirnya setelah bertahun-tahun di publish juga part 2 nya.. Semoga bisa lanjutin part 3ya :D







Senin, 06 Mei 2013

Movie-Inspired Travel Destination

Did I tell you already that I would like to travel the world? Countless perhaps.And I would like to state it again and again.

Siapa sih yang nggak pengen jalan-jalan keliling dunia? Apalagi kalau lagi nonton film dan settingnya bagus. Wihhh bisa semaleman nggak tidur gara-gara mupeng pengen kesana.

Nah berikut ini adalah film-film yang menginspirasi saya  untuk berani bermimpi traveling ke tempat-tempat tersebut. Nggak hanya  sekedar sampai di suatu negara atau kota.  Namun lebih spesifik lagi, mengunjungi lokasi adegan film itu diambil kalo perlu. Dan alhamdulillah-nya dari sebuah mimpi dan kecintaan saya pada film beberapa sudah berhasil saya kunjungi.

1. Ratatouille

Hah? Animasi? Ciyuss? Eitsss jangan salah ya!Justru keinginan saya untuk menikmati indahnya the City of Love, Paris, memuncak ketika menonton film ini. The music, the lights and the foods are just perfectly illustrated! Walaupun jenis kulinernya masih kalah populer dibanding Italia, tapi merupakan suatu kebanggaan tersendiri jika bisa menikmati kota Paris sambil duduk-duduk Parisian Cafe. Meskipun cuma minum kopi dan mencicipi croisant sambil ditemani street musican yang maininin accordian. C'est Magnificent!


2. The Beach

Masih inget kan filmnya Leonardo Di Caprio yang sempet bikin heboh gara-gara syuting di Asia Tenggara? Yes, it was in Maya Beach, Thailand. Saat itu Leonardo yang melejit gara-gara Titanic tentu aja bikin film ini sukses secara finansial. Meskipun kritikus ngasih rating rendah buat filmnya dan menuai banyak protes karena merusak alam di sekitar tempat syuting.

Keistimewaan tempat ini adalah pantai pasir putih  yang hampir 70%  dikelilingi bukit-bukit batu  yang tinggi. Makanya dengan dramatisasi cerita, Maya Beach ini digambarkan seakan-akan harta karun yang tersembunyi dan jauh dari jaungkauan manusia. Karena ketenarannya justru yang saya dapati disana bukan keindahannya melainkan puluhan speedboat dan ribuan turis yang memenuhi bibir pantai. Sampai saya bingung mau ambil satu foto tanpa bocor itu susah sekali. Tak jauh dari Maya Beach ini terdapat  James Bond Island yang dinamai sesuai film James Bond yang syuting disana. Saya sendiri tak sempat mengunjunginya dan belum lihat filmnya juga. Film-film yang syuting di tempat yang belum populer seperti ini memang memberi dampak wisata bagi masyarakat sekitar. Nyatanya meski film The Beach tersebut tidak begitu bagus, cafe-cafe di Pulau Phi-Phi masih memutar film tersebut pada hari-hari tertentu hingga hari ini.


3. Billy Elliot


Coba tebak berapa kali saya nonton film ini? Hmm sayapun tak ingat, tapi yang pasti tak pernah bosan! Sebenarnya saya bukannya ingin berkunjung ke Durham, Inggris Utara gara-gara menonton film ini. Tapi pengen ke London buat nonton versi musikalnya di Victoria Palace Theatre, Victoria Street, London, SW1E 5EA. Aransemen musiknya sendiri di-arranged oleh Elton John dan teatrical actnya sendiri udah menangin beberapa awards. Sebenernya tiketnya nggak begitu mahal, sama sih kaya ke Universal Studio. Disneylan 400-500ribu. Tapi tiket pesawatnya ke London itu lhoooooo! Ada yang mau beliin?

4. Before Sunrise and Before Sunset


Dua film yang bakal ada sequelnya dalam waktu dekat ini kayaknya kalo dibahas satu-satu nggak bakalan selesai semaleman. Dari Austria, sampai cruising menyusuri Sungai Seine sambil memandangi Gereja Notredam! Damn! Kalo keliling eropa ada kitabnya, mereka itu udah khatam deh. Yang paling menginspirasi saya dari film ini sebenernya adalah "Train Travel'. Justru awal film itu bermula, menyusuri Eropa dengan kereta , bertemu orang asing dan ngobrol ngalor ngidul lalu memutuskan memulai petualangan baru. :')

5. The Dark Knight


Disela-sela lokasi utamanya di Gotham City, justru adegan yang paling keren dan paling saya suka adalah ketika Bruce Wayn diam-diam ke HongKong untuk 'menculik' mafia yang kebal ekstradisi. Dari atap gedung Batman yang notabene sendirian harus terjun ke ruangan si mafia tadi ngelewatin penjaga yang bersenjata. Nah di atap gedung tadilah keliatan bahwa itu Bank of China Tower di Hongkong Island. Kalau ketinggian sih masih banyak yang lebih tinggi, tapi desain lampu yang menyerupai rangkaian huruf X yang membuat bangunan ini mudah dikenali. Padahal menurut kepercayaan masyarakat disana justru fengshui-nya kurang bagus. Tapi memang ketika saya berada di Tsim Sa Tsui memandangi Symphony of Light, gedung ini adalah salah satu yang paling mencolok diantara yang lain.

6. The Lives of Others (German: Das Leben der Anderen)

Selain emang demen ama film-film yang berbau Nazi, saya pas nonton film itu lagi keranjingan belajar bahasa Jerman. Ceritanya tentang seorang mata-mata terbaik Gestapo yang ditugaskan memata-matai seorang penulis novel. Sebelum tembok Berlin dihancurkan, Jerman Timur emang parno sama yang namanya kesenian. Karena kesenian dianggap dapat membangkitkan perlawanan dan pembangkangan. Duh! Bukannya benci, lama-lama si polisi ini justru 'jatuh cinta' dpada karya-karya dan kehidupan penulis itu. Disaat si penulis terpengaruh untuk membangkang si polisi ini justru menutup-nutupi dari atasannya. Nah adegan akhir di film inilah yang paling bagus, menyentuh, sekaligus bersemiotika paling dalam. Saya nggak mau bocorin spoiler ya. Yang pasti saya jadi pengen banget berkunjung ke toko buku bernama 'Karl Marx Buchhandlung ini di Berlin. Someday: Amin! :)

7. Eat Pray Love

Every traveler knows Bali, but not everyone of them knows Indonesia. Itu sudah rahasia umum. Sebenernya sebel juga sih kalau justru orang asing yang mengekspos kekayaan negeri kita, bukan pemerintahnya. Tapi saya lagi males ah ngeabahas ketidakbecusan pemerintah kita. Gara-gara film tersebutlah saya tahu kalau Padang-Padang Beach ada di Bali selain Kuta dan Sanur, lalu memutuskan untuk berkunjung kesana. Dan benar ternyata informasinya belum begitu tersebar di negeri ini. Karena pada kenyataanya 90% wisatawan asing yang menikmati keindahan alam yang eksotis itu. Sebenarnya suatu keuntungan sendiri bagi kita ketika ada film di Hollywood ambil lokasi disini. Tapi plis ya jangan ada lagi berita pemalakan oleh petugas beacukai di bandara ntar mereka kapok dateng!


Well itu tadi 7 film yang sukses cukup besar pengaruhnya untuk bikin saya nekat 'mbolang' buat ngeliat aselinya. Kalau kamu apa? Siapa tau aku jadi pengen juga. Hihihi :)