Halaman

Tampilkan postingan dengan label Kompetiblog 2012. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kompetiblog 2012. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juli 2012

Road to Europe (Part I)

Saya bukan termasuk mahasiswa dengan prestasi akademik yang outstanding. Bahkan skripsipun nggak berhasil saya tuntaskan tepat waktu. Walaupun begitu saya adalah orang yang percaya bahwa setiap orang punya satu kelebihan tertentu yang kadang tidak disadari oleh pemiliknya. Wait kenapa saya sebutin kelemahan saya tadi? Yes, karena saya ingin semua yang baca tahu, gelar dan angka akademik bukan segalanya. It may help a lot but there's thousand other ways to Rome (if you never ever surender to find it!). Ada juga yang pandai bukan main, tapi ternyata secara interpersonal-relationship ansos. Ada yang biasa aja, tapi temen dan networkingnya banyak. Nah apa kelebihan saya? Saya mungkin orang ternekat di dunia  rumah saya . Sebagai seorang risk taker nggak jarang saya  kena 'blunder' dari kenekatan saya, well at least it teaches me that trying something new is never useless. Saya pernah terjun dari genting setinggi 5 meter hanya dengan seutas tali tanpa alat pengaman lain,  dannnnn saya sehat wal'afiat sampe sekarang. Tuhan Maha Baik! wait ini bukan percobaan bunuh diri lho ya, saya cuma nyobain jadi Lara Croft aja sih, nyehehhe :p   (boleh tanya bapak ibu saya deh untuk kronologisnya-beliau saksinya). 

Tunggu! yang loncat tadi plis jangan ditiru yah! Emang awalnya cuma modal asal nekal, nekat yang jelek-jelek pernah kayak terjun bebas tadi  (saya nggak usah sebutin yg lain lah yaa) eh gagal-gagal-gagal,  lama-lama jadi punya pola. Hal apa yang harus dinekatin dengan perhitungan matang - karena itulah saya nggak boleh menyerah untuk sesuatu yang baik. Experience is a mean teacher, it  gives us test before giving the  lesson. Seperti ketika saya mengikuti Kompetiblog 2012 kemaren. Walopun memang menulis adalah passion saya, tapi saya bener-bener baru dalam kompetisi yang udah diadakan ke 4 kali-nya oleh Neso Indonesia kemaren. It really is a new stuff for me, soalnya liat yang kemaren-kemaren kayaknya serius banget sih ni kompetisi. Tulisannya juga bagus-bagus. saya bisa nggak ya? Ah nekat bikin aja! Dan seperti biasa kegiatan tulis menulis inih selalu di dukung maspatjar :p

Nah bagaikan dapet jackpot, lagi- lagi Tuhan bersama orang-orang yang nekat. Saya dibantuin dosen saya buat nyari ide nih, he's a really helpful and kind. Beliau ini udah lulus sari Utrecht University. Sumpee Ngefans! (Thankss again pak Taufiq) akhirnya setelah riset ngumpulin bahan (sampe ada folder tersendiri yang saya namain THIS IS YOUR TICKET TO NL). Akhirnya saya nulis deh 3 tulisan, nulisnya nggak lama kok. Ngeditnya yang lama, soalnya harus dipasin 500 kata, dan ternyata susah sekali mengakomodasi ide segitu banyaknya dengan tulisan yang seminimal mungkin. Akhirnya setelah saya rasa mantap dengan tulisan saya, saya kirim deh itu tulisan. Nah permasalahannya saya sempet sebel nih sama panitianya (maaf ya mbak Inty mbak Mira) karena ternyata temanya beda dari web Neso dan Studidibelanda-dan sempet protes gitu di twitter. (apa saya menang gara2 paling rewel yah .>_<) Saya nekat bikin satu tulisan lagi yang menurut saya lebih spesifik e tapi nggak ditampilin :( Sebenernya saya juga udah agak bete dan  pasrah kalo nggak menang setelah itu . Sampe beberapa waktu saya liat pengumuman 30 besar finalis dan ada namaku! Jadi semangat lagi deh! Dan akhirnya 4 Besar! And the first peson I told was my mom. I said 'mom sorry I not in the first place' 'That's okay dear you're always the champ for me'I think it's The best present ever :)

"Everything, everything is a competition. Whoever said winning wasn't everything... Never held a scalpel.- Grey's Anatomy"

Minggu, 13 Mei 2012

Creative Education Does Matter!

       Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mandiri. Tolok ukur kemandirian itu bisa dilihat dari banyaknya program wirausahawan/entepreneur dalam menopang ekonomi bangsa. Sebagaimana Dr. Judy Matthews, profesor di bidang ekonomi, dalam jurnalnya 'Creativity and Entrepreneurship: Potential Partners or Distant Cousins?' meyebutkan : 
"Creativity and entrepreneurship, like innovation, have been recognized as important contributors to a nation’s economic growth." 
      Indonesia sendiri pada data per Januari 2012 hanya memiliki 1,5 % penduduk yang menjadi entrepreneur, menurut situs Bisnis Indonesia. Sedangkan pada 2011 lalu Belanda telah memiliki 12% wirausahawan dari populasi pekerja keseluruhan. Data tersebut menunjukan Belanda paling unggul diantara negara-negara Eropa bagian barat. Bahkan Menteri Ekonomi Belanda, Maxime Verhagen, menyatakan “Dutch more entepreneurial than United States” yang mana pada januari 2011 Amerika Serikat hanya memiliki 10% penduduk yang bekerja sebagai entrepreneur. Nah pertanyaannya kemudian, bagaimana Belanda bisa menumbuhkan presentase  sedemikian besar? Jawabannya adalah melalui pendidikan. 
Kompetisi The Next Level
        Peran pemerintah sangatlah penting dalam membentuk generasi entrepreneur dengan cara menyediakan ruang dan fasilitas bagi inovasi melalui pendidikan sejak usia dini. Untuk mendayagunakan masyarakat yang kreatif maka dibutuhkan program-program kreatif pula dari pemerintah sendiri. Pemerintah Belanda dalam hal ini telah berkomitmen sejak tahun 2000 untuk memajukan, mendukung dan memfasilitasi bidang kewirausahaan melalui institusi pendidikan. Sebagai salah satu wujud dari komitmen itu pada tahun 2008 Menteri Ekonomi Belanda mencanangkan kompetisi wirausaha 'The Next Level' bagi pelajar kejuruan tingkat menengah dan atas. Program itu berupa hadiah sebesar €5000 bagi siswa yang paling kreatif dalam mengembangkan program kewirausahaan. Program-program penyuntikan 'virus' entrepreneurship pada institusi pendidikan seperti Education takes Action! dan HOPE (The Holland Progam on Entrepreneurship) juga tumbuh pesat didukung oleh pemerintah Belanda. 
       Menurut situs http://www.government.nl, pemerintah Belanda berusaha menghapuskan paradigma bahwa pelajar tidak boleh memiliki usaha sampingan misalnya dengan menawarkan beasiswa wirausaha untuk pelajar seperti Student Entrepreneur Prize (Studenten Ondernemersprijs, StuOp) maupun Student Programme on Entrepreneurship (SPOE). Hasilnya pada tahun 2011 terlihat peningkatan signifikan sejumlah institusi di Belanda yang mengintegrasikan prinsip-prinsip kewirausahaan dalam kebijakan sekolah maupun kurikulumnya. Dan secara domino, efeknya mulai banyak terlihat lulusan-lulusan perguruan tinggi yang siap membuka bisnis baru yang self-employed maupun yang menyerap tenaga kerja profesional. 
       Belanda telah membuktikan bahwa kurikulum berbasis entrepreneurship merupakan sebuah inovasi dalam bidang pendidikan yang berimbas positif pada sektor ekonomi. Mungkinkah hal tersebut juga jawaban untuk permasalahan bangsa Indonesia mengenai masalah pengangguran dan penyerapan tenaga kerja? Well, you decide.

Rabu, 02 Mei 2012

Kompetiblog 2012 : Uncle Sam van Oranje

Two weeks ago , Robin Van Persie was the only person that crossed my mind when I heard the word ‘Dutch’. But after I read about Kompetiblog 2012, the name of my lecturer when I was in university rang my bells. He is Mr. Taufiq Al Makmun, a young creative lecturer who always amazes me with his balance betterment of academic life, entrepreneurship, and traveling hobby. The fact that he studied at Utrecht University gave me an idea to interview him. I knew that Mr. Taufiq took American Study for his Master’s degree, but what ‘bothers’ me is why he chose Netherlands instead of United States. 

My curiosity was answered as he explained that his reason was because he had taken American studies (AmStud) classes in the US. So he required a model of the developing AmStud outside the US. Moreover, when he read the profile of AmStud in Utrecht University : the American Cultural Influence —- he was like ‘That’s a creative way in placing the focus of AmStud outside the US which is useful for the country instead.’ I quote.
Mr. Taufiq shared that at the first time the only thing he worried about studying in Netherlands was language barrier. But it turned out, his academic life was totally fine as International program was conducted entirely in English. Even, he was impressed by his professors that were very helpful indeed. He was delighted that he could attend Noah Chomsky’s stadium generale back then, he told. He remarked that he got the opportunity since useful information was easily gained in university.
Beside the academic ease, he was awed by the technologies that Netherlands possess. He told me enthusiastically that they have two-thumbs up water systems throughout the whole country which extends below the sea level and not flooded. He proposed that northern Semarang structure, that is exactly the copy of Amsterdam, should consider the Dutch city’s blue-print which seems had been rejected to minimize their today’s problems.
From the underwater beauty of Wakatobi until sightseeing around NYC which he photographed [that makes me drolling] I feel obliged to ask him about how Netherlands fulfilled his thirst of traveling, and this is what he said:
My biggest motivation, personally, is that I love visiting new places and traveling So I decided to consider Europe after experiencing U.S. Each city has different characteristic, from cultural port of Amsterdam to modern Rotterdam, from the hilly historical Maastricht to placid Groningen. I can’t put my camera off not to miss things in every weekend journey I made. Keukenhoff -the garden of Tulip- is colourful field in the spring; thousands tourist coming each day just to witness the gorgeous garden-a creative industry and money making. Also windmill culture shows a great creativity of mankind, not only its multiple functions but also the beauty of the technology performance in shape.
Having Mr. Taufiq told his experience inspires me greatly.  It strengthens my faith that someday I will have a chance to retrace his journey. *fingercrossed*

Minggu, 29 April 2012

The Dutch Touch: a Jaw-dropping Dutch Creativity



Foto dari www.theinterlace.com

      Apa yang ada di benak kalian setelah melihat gambar diatas. Aneh? Gak waras? Kurang kerjaan? Itu bangunan apa lego—kok ditumpuk-tumpuk ? Haha.. Desain arsitektur tersebut sekarang lagi dikerjain di Singapore dengan nama proyek The Interlace. Benar-benar Jawdropping, kan?

     Nah hebatnya The Interlace didesain oleh firma Office Of Mertopolitan (OMA) di Rotterdam yang didirikan oleh arsitek Belanda yaitu Rem Koolhaas. OMA sudah berprestasi membuat desain Waterfront City di Dubai serta Seattle Library di New York yang saya juga bahas di sini. Cool!

'Dutch architect's design'
    Memadukan unsur urban dan smart living, arsitek Belanda memang tahu cara memanfaatkan terbatasnya ruang menjadi sebuah kreatifitas. Hidup di daerah yang lebih rendah dari permukaan laut membuat mereka senantiasa tertantang untuk menciptakan desain bangunan yang inovatif dan sustainable tanpa mengurangi estetikanya. Signature style nan "quirky" dan "out of the box" ’ yang ditampilkan, kemudian disebut dengan dutch design. Orang-orang Belanda memang sadar betul bahwa keeksentrikan kreasi mereka merupakan sebuah komoditi. 
“Holland innovation economy; knowledge, innovation and entrepreneurship are the basis for an ambitious future.”- Queen Belatrix, Thorne Speech 2007

         Sejalan dengan semangat dari Ratu Belanda tersebut, proyek dan kampanye ekonomi kreatif semakin digalakkan, antara lain: I AmSterdam, Amsterdam Creative City maupun Picnic Cross Media week yang diadakan tiap tahun sebagai sarana peningkatan creativepreneurship. Bahkan Jaap Modder & Jeroen Saris, dalam Creative Spaces in the Netherlands, juga menyebutkan 990.000 warga Belanda bekerja pada sektor ekonomi kreatif. Hasilnya menurut INSEAD’s Global Creativity Index 2011, Belanda ada diperingkat 8 negara terkreatif dan terinovatif di dunia!
Kiri: Peta persebaran ekonomi kreatif | Kanan : Peringkat Global Innovative menurut INSEAD | Bawah: Produk Kampanye
Teknologi 
      Mobil terbang bukan lagi sebuah fiksi ketika Belanda mulai memperkenalkan PAL-V ONE, flying car yang sedang dikembangkan oleh perusahaan PAL-V Europe NV. Kendaraan yang mengkonsumsi bakar solar ini dilengkapi teknologi mutakhir yang memungkinkannya melaju seperti sepeda motor.  2 in 1! :D

Advertising 

Teun Castelein baru berumur 26 Tahun saat ide Artvertising muncul. Awalnya dia terinspirasi oleh Million Dollar Blog dan ingin mewujudkannya ke dunia nyata. Akhirnya bekerjasama dengan Sandberg Institute, Castelein berhasil memperkenalkan periklanan gaya baru melalui petak-petak bagian luar gedung kampus yang disewakan. Setiap petaknya dijual dengan harga mulai dari sekitar 20 euro. Ide ini langsung disambut baik oleh vendor-vendor besar yang segera saja membeli lot iklan di gedung itu.

Media 
Peter Bluijs dari Telegraaf Media Groep adalah orang pertama yang mengemukakan gagasan Vertical Newspaper. Dengan ide pemanfaatan space baca di ruang publik, diharapkan pembaca koran bisa menghemat ruang karena halaman koran tidak lagi dibuka menyamping namun memanjang. 



“Doe maar gewoon dan doe je al gek genoeg”

(Bertingkah normal saja orang Belanda sudah cukup gila)
         Well, sepertinya dengan melihat fakta diatas saya harus setuju dengan pepatah Belanda tersebut. Mungkin itulah kenapa mereka ini turah-turah* ide, ya..hihihi :D 

*[Bahasa Jawa : kebanyakan]
Referensi:

BELANDA: Dulu Kreatif atau Kreatif dari Dulu?

"..even old New York was once New Amsterdam ~why they changed it I can't say..."
     Sepenggal lirik lagu berjudul Istanbul (not constatinopel) dari band peraih dua Grammy's ‘Their Might be a Giant’ itu mengingatkan saya akan mata kuliah American Study (AmStud) saat masih kuliah di jurusan Sastra Inggris. Yang paling saya ingat dari AmStud adalah ketika masuk ke sub-mata kuliah American Ethnicity. Karena ternyata dibalik semua hal membosankan ‘ngepop’ yang menyanjung-nyanjung nama Amerika, saya jadi tahu AS dulunya cuman sebuah ‘melting pot’ negara-negara lain! Dan akhirnya, saya sampai pada suatu titik kesimpulan bahwa "Behind a superpower nation there were bunch of creative ancestors".

       Nenek moyang bangsa Amerika yang dimaksud termasuk diantaranya adalah etnis Dutch American (Belanda-Amerika), yang turut berkontribusi menjadikan seperti Amerika sekarang ini. Ketika kemudian mempelajari bab German American, saya bisa membedakan bahwa motif utama bangsa Jerman datang ke Amerika adalah karena saat itu Jerman porak-poranda karena rezim The Third Reich. Lalu pada akhirnya banyak warga negara Jerman mencari perlindungan ke Amerika, yang disebut dengan ‘Assylum of Mankind' oleh Thomas Paine.
        Jika Jerman menjadikan Amerika sebagai tempat pelarian, maka lain halnya Belanda yang datang ke Amerika  sebagai bangsa creativepreneur. Mengarungi samudra dengan "De Halve Maen", rombongan entrepreneur dengan komoditi bulu berang-berangnya itu dipimpin oleh seorang Kapten bernama  Henry Hudson. Kolonianisasi New Netherlands berpusat  di pulau  yang sekarang ini disebut Manhattan. (Dulunya dibeli oleh    Gubernur Jenderal VOC, Peter Minuit, seharga $24 loh!). FYI, VOC sendiri merupakan perusahaan terbuka pertama di dunia yang berinovasi menerbitkan saham.


          Nama New Amsterdam kemudian dipakai sebagai ibukota New Netherland selama 40 tahun, hingga pada 1664 diganti dengan nama New York. Namun hingga saat ini, legacy bangsa Belanda masih diabadikan. Seperti misalnya berang-berang yang digunakan sebagai lambang kota New York, nama-nama tempat antara lain ; Amsterdam Avenue, Stuyvesant Park, Rensselaer, Harlem, New Utrecht, Yonkers, the Bowery, dan Van Cortlandt Park. Erasmus Hall Campus, namanya juga diambil dari tokoh Belanda Desiderius Erasmus. Kemudian Spuyten-Duyvil-sebuah stasiun kereta di Bronx, Gereja Albany di Pearl Street, bahkan bendera City of New York merupakan bendera lama Dutch Republic.


      Sekarang mungkin tak terhitung warga Amerika keturunan Belanda sudah tersebar di The Big Apple maupun di AS keseluruhan. Tercatat 5 presiden Amerika adalah keturunan Belanda, salah satunya Franklin D. Roosevelt (satu-satunya presiden yang menjabat lebih dari dua periode). Di samping itu banyak pula figur sukses di bidang industri kreatif keturunan Belanda seperti Matt Groening pencipta serial The Simpsons.


Dutch-American Today
     Walaupun mungkin sudah 400 tahun berlalu, namun Dutch American tidak lantas melupakan jati dirinya. Pada 2009 lalu komunitas keturunan Belanda memperingati 400 tahun Dutch-American Friendship dengan mengadakan event dengan tema Pioneer of Change yang berisi pameran fashion sampai dengan arsitektur bertempat di Governor Island, New York. Termasuk diantaranya profesor di bidang Urban Design, Rem Koolhaas, yang pada tahun 2008 masuk dalam peringkat 100 besar The World's Most Influential People versi majalah Time.

Video Pioneer of Change: 

     New york adalah proyeksi kreatifitas bangsa Belanda dari berabad-abad lalu dan Dutch American disana telah membuktikan bahwa creativity did make Dutch  survive everywhere.

Referensi:
  1. http://cecily-layzell.suite101.com/the-dutch-influence-on-new-york-a58020
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kota_New_York
  3. http://people.hofstra.edu/alan_j_singer/docket/docket/11.1.14_The_Dutch_Influence_in_New_York_City.pdf