Kalau saya mati, Aksa gimana?
Pikiran tersebut sempat terlintas di benak saya beberapa waktu lalu.
Berlebihan memang, tapi saya pun tak menyangka kelelahan dan perasaan
terisolasi yang saya pendam ketika menjadi ibu pertama kalinya bisa
berkembang menjadi Post-partum Depression.
5 bulan lalu tepat hari ini anak saya, Aksa, lahir ke dunia. Dalam
sekejap rasa sakit dan lelah pasca persalinan terkikis oleh tangis
pertamanya yang pecah sejurus dokter berkata Bayinya sehat Bu,
jari-jarinya lengkap sempurna. Alhamdulillah! 24 jam kemudian ratusan
ucapan selamat dan doa dari kawan membanjiri sosial media, puluhan kado
dari sanak saudara berjejalan di sudut-sudut kamar pernuh warna. Tapi
dari semua ucapan yang ada tak ada yang mengingatkan saya bahwasanya no
mommies is perfect, just relax and enjoy motherhood.
Setelah kemeriahan itu berangsur-angsur pergi, segera saja hati saya
dipenuhi dengan rasa cemas. Kenapa Aksa kulitnya muncul merah-merah?
Apa saya salah makan? Kenapa Aksa sering bangun menangis keras?
Jangan-jangan asi saya tidak cukup? Is he okay? Is it normal? Pikiran
itu mulai muncul ketika aksa berumur 7 hari dan saya harus sendirian di
rumah. Ya, sendiri, karena saat itu suami saya bekerja di luar kota,
sedangkan walaupun sementara waktu saya tinggal dengan orang tua saya,
ayah ibu saya yang masih aktif bekerja tidak dapat menemani dan membantu
saya mengasuh Aksa sepanjang waktu.
Sebelumnya juga saya tidak membayangkan kalau rutinitas menjadi ibu
bisa begitu melelahkan dan sekaligus monoton, meskipun sebelumnya sudah
berusaha membekali diri dengan banyak membaca. Sebagai seseorang yang
gemar traveling, terbiasa mengunjungi tempat baru, melakukan sesuatu
yang belum pernah, suasana baru, bertemu orang baru dan harus gantung
paspor saya akui gak kagok ketika hari-hari pertama Aksa lahir. Kegiatan
menyusun itinerary, packing, check in dari bandara satu ke bandara
lainnya tergantikan dengan kegiatan di atas taffle mengganti popok satu
dengan yang lainnya membuat saya merenung Is it mom really is the
loneliest number? Tanda tanya yang sempat terlintas itu saja sudah
membuat saya merasa bersalah, merasa berdosa, karena seharusnya bukankah
seorang ibu merasa bahagia bukannya kesepian ketika berdua bersama
bayinya?
Akhirnya setelah bertarung dengan pikiran saya sendiri saya
memilih untuk diam dan menahan diri untuk tidak mengeluh. Seorang ibu
tidak boleh kesepian dan jenuh! Hardik saya pada diri sendiri .
Rasa ngilu bekas episiotomi, puting yang lecet ketika menyusui, badan
lemas kurang tidur juga menambah emosi negatif yang menjadi-jadi, tapi
kembali ego saya berteriaka mom shall not complain, bare it and it will
go away. Ternyata saya salah besar, segala perasaan negatif yang saya
pendam sendiri, adalah bom waktu. Saya jadi tiba-tiba sedih tanpa
alasan, mudah tersinggung, marah ketika ada suara berisik tetangga yang
membangunkan tidur Aksa. Saya pun jadi malas mengurus diri dan
bersosialisasi, orientasi hidup seakan hanya seputar anak, tak ada
aktualisasi. Puncaknya, saya sakit dan muntah-muntah ketika karena tidak
dapat memejamkan mata sedikitpun selama 36 jam. Aksa pun ikut rewel
dan muntah setelah disusui, bahkan menolak ASIP. Saya merasa
berangsur-angsur kehilangan rasa percaya diri dan minat mengasuh anak.
Untungnya saya menyadari ada yang salah dengan diri saya dan segera
mencari tahu. Kenapa kelelahan saya tak berujung, kenapa saya
terus-terusan dirundung ketakutan dan kesedihan. Dan demi anak saya,
saya tak boleh malu meminta bantuan profesional.
Ternyata setelah
konseling dengan pakar, diketahui baby blues yang saya alami telah
berkembang menjadi depresi pasca persalinan. Selain dipicu perubahan
hormon sebenarnya apa yang saya alami adalah normal sebagai ibu baru,
tetapi karena saya mengabaikannya akhirnya gangguan itu menjadi semakin
parah. Ternyata pula komunikasi dengan pasangan dan keluarga itu hal
yang tak boleh diabaikan, apalagi berbagi peran pengasuhan anak.
Bergaul dengan ibu baru, bersosialisasi juga tak kalah pentingnya.
Akhirnya setelah beberapa sesi konseling dan hipnoterapi saya menyadari
bahwa seorang ibu walaupun tidak sempurna pastilah akan melakukan yang
terbaik untuk anaknya. Karena ketidaksempurnaanya, seorang ibu akan
terus belajar sepanjang hidupnya. Perlahan-lahan saya menjadi lebih
santai dan enjoy dalam mengasuh Aksa. Saya dengarkan naluri sebagai ibu
serta afimarsi diri bahwa tanpa beban untuk jadi ibu sempurna : anak
saya akan baik-baik saja.
Saya pun kemudian memutuskan ikut suami pindah. Saya menyadari
pentingnya memenuhi kebutuhan jiwa saya dan Aksa atas kehadiran ayahnya
lebih penting dari cost yang lebih besar yang harus kami keluarkan. Itu
yang terbaik meskipun harus berjuang hanya bertiga di tanah rantau dan
jauh keluarga. Lebih melelahkan memang namun entah kenapa semangat
kembali muncul ketika memandangi suami dan Aksa yang sedang tidur
bersama.
Sekarang, saya tidak pernah melawan ketika rasa jenuh itu
datang. Saya akan berterus terang pada suami dan kemudian dia menawarkan
mengasuh anak selagi saya beristirahat ataupun memanjakan diri ke salon
.
Untuk ibu-ibu baru ingatlah kata-kata saya a key to healthy child is a
happy mother. Jadi jangan lupa diantara tugas-tugas anda sebagai ibu
bahagiakan dan hargai diri anda untuk bisa membesarkan anak yang bahagia
pula.. :)
Persembahan untuk ibu baru.
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Mother And Baby Indonesia Tahun 2014 .
Kamis, 16 Juni 2016
Kejutan di Krabi
“Di mana gerangankah Krabi?” Hampir semua kawan yang mengetahui
rencana saya berlibur ke Krabi mengernyitkan dahi, mencoba
menebak-nebak di belahan bumi bagian mana Krabi berada. Orang Indonesia
lebih akrab dengan kota-kota yang sudah populer duluan seperti Bangkok,
Pattaya, dan Phuket. Padahal Krabi pun tak kalah cantiknya. Tak heran
jika wisatawan mancanegara menyebutnya sebagai “tourist paradise”!
Memulai Perjalanan
Setelah transit di Kuala Lumpur, saya tiba di Phuket International
Airport sekitar pukul setengah delapan pagi. Saat itu bandara masih
sepi, namun hampir semua mobil di car rental sudah habis tersewa. Jadi pilihan terakhir untuk ke Krabi hanyalah dengan bus atau ferry. Sebagai informasi, bulan November-Februari adalah puncak kedatangan wisatawan di Phuket. Jika Anda berencana berlibur pada peak season, lebih baik reservasi tiket pesawat, penginapan, maupun mobil jauh-jauh hari.
Saya pun bergabung dengan wisatawan lainnya di halte bus bandara
(semacam DAMRI). Seorang pria mendekati kami, lalu berkata bahwa bus
bandara sedang tidak beroperasi hari ini. Sambil menunjuk nomor telepon
di papan jadwal kedatangan bus yang jelas-jelas tertulis “BUS SERVES
EVERYDAY”, dia meyakinkan kami untuk memastikan informasi yang dia
berikan dengan menghubungi nomor tersebut. Kemudian pria tersebut
menawarkan untuk menggunakan jasa taksinya—tentu saja dengan harga yang
fantastis. Saya dan beberapa wisatawan dari Austria yang sama-sama
menunggu bus hanya tersenyum dan bergantian menjawab, ‘No, thank you’, karena kami sama-sama tahu penipuan semacam itu sudah biasa di Thailand. Para scammer
ini modusnya memberi informasi yang salah kemudian menawarkan jasa
transportasi yang akhirnya mengarahkan ke tempat-tempat tertentu untuk
berbelanja.
Seperti yang saya duga sebelumnya, setengah jam kemudian bus bandara
tiba. Biayanya hanya 90 baht—sekitar seperlima dari harga yang
ditawarkan sopir taksi penipu tadi. Tujuan bus ini hanya satu, yaitu
Phuket Bus Terminal dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Namun
setibanya di terminal, terdapat sejumlah bus dengan tujuan ke berbagai
pantai maupun provinsi lain termasuk Krabi.
Walaupun informasi mengenai perjalanan dengan bus ke Krabi ini sangat
terbatas, saya memutuskan tak ada salahnya mencoba. Opsi transportasi
menggunakan ferry jauh lebih mahal dan membutuhkan waktu tempuh
lebih lama, karena dari terminal saya harus menggunakan bus kecil menuju
dermaga terlebih dahulu dengan jadwal keberangkatan yang tidak menentu.
Sedangkan menurut informasi dari beberapa penduduk setempat, dari
terminal yang sama saya bisa langsung menuju Krabi dengan bus rute
Phuket- Hatyai yang siap berangkat tiap jamnya.
Saya akhirnya bertolak ke Krabi dengan bus bercat oranye tersebut.
Tarifnya 130 baht dengan lama perjalanan sekitar tiga jam. Di luar
ekspektasi, perjalanan sejauh 185 km itu sangat nyaman. Hampir tidak ada
jalanan yang rusak, cukup sepi karena jarang ada kendaraan berpapasan,
bus pun tidak berhenti mendadak maupun sembarangan. Beberapa
perkampungan muslim khas Thailand bagian selatan, garis pantai, dan
perbukitan kapur menjadi pemandangan utama selama perjalanan.
Krabi Town
Kapal-kapal cantik yang merapat di dermaga Chao Fa menawarkan
berbagai tujuan menarik. Dari tur singkat mengelilingi perairan bakau di
antara perbukitan kapur hingga ke Pulau Phi Phi dan berbagai tempat
wisata lain yang sayang untuk dilewatkan.
Pemandangan unik di Thanon Road pun tak kalah menariknya. Di sisi
jalan tersebut terdapat sebuah obyek semacam patung primata. Namun
setelah dilihat dengan lebih saksama, sosok tersebut lebih mirip manusia
purba yang menjinjing lampu lalu lintas. Menurut cerita, pada tahun
1986 ditemukan artefak manusia gua di Lang Rong Cave yang kemudian
dianggap sebagai nenek moyang oleh masyarakat setempat. Lang Rong Cave
sendiri terletak tak jauh dari Krabi Town, hanya saja butuh persiapan
fisik yang lebih untuk menuju ke sana.
Sekitar 15 menit ke utara terdapat atraksi lain yaitu Tiger Cave
Temple (Wat Tham Suea). Di dalam bangunan utama Tiger Cave Temple
terdengar doa dari kitab Buddha yang dipanjatkan dalam teknik meditasi
yang unik yaitu Vipassana. Pantulan suara di rongga-rongga gua menambah
efek sendu setiap upacara. Di dindingnya tergantung gambar potongan
jasad dan organ manusia yang berfungsi untuk mengingatkan para biksu
agar fokus kepada hal-hal yang bersifat spiritual, karena hakikatnya
tubuh bersifat fana. Yang lebih menarik, terdapat anak tangga sebanyak
1.200 buah untuk menuju ke atas bukit setinggi 125 meter di mana bekas
telapak kaki Buddha konon berada. Masuk ke Tiger Cave Temple ini tidak
dipungut biaya sama sekali namun kedermawanan pengunjung diharapkan
dalam membantu proses renovasi.
Hotel tempat saya menginap berada di antara food market dan Krabi walking street.
Sama seperti di Phuket, paket tur menuju Phi Phi Island juga bisa di
dapatkan di hotel maupun agen tur dengan harga rata-rata 1000 baht per
orang. Saya juga mendapati kenyataan bahwa ternyata gugusan kepulauan di
Phi Phi termasuk dalam kekayaan hayati milik Provinsi Krabi, begitu
juga dengan 53 pulau kecil di gugusan Koh Lanta.
Hampir semua fasilitas yang ada di Phuket terdapat pula di Krabi,
tentu saja minus suasananya yang ramai. Di setiap sudut Anda bisa
menemukan convenience store, jasa laundry murah, serta street food stall yang menjual tom yum dan banana street pancake yang lezat. Mencari makanan halal pun tidak terlalu sulit karena hampir 50% dari populasi Krabi beragama Islam.
Wisata Pantai
Jarak dari Krabi Town menuju Ao Nang, pantai terdekat, adalah
sekitar 30 menit. Tiba di Ao Nang Road pada malam hari sedikit banyak
mengingatkan akan nightlife di Patong. Beragam resto lokal, resto
cepat saji, jasa tukar uang, hotel, resor, maupun hostel berjajar
sepanjang jalan menuju pantai. Bar dan pub dengan iringan live band maupun musik trance tampat berderet di Ao Nang Center Point Entertainment Complex.
Di bibir pantai Ao Nang sendiri banyak dive shop yang menawarkan pengalaman underwater
di Bamboo Island, Poda Island, Hong Island, dan Phi Phi Island. Pantai
di Ao Nang ini mirip dengan Kata, dengan pasir putih dan garis pantai
yang lurus dan memanjang. Bedanya, tidak ada barisan sunbed yang memenuhi tepi-tepinya sehingga pantai tampak luas dan lapang.
Jika Ao Nang masih dirasa terlalu ramai, terdapat Railay Beach,
pantai eksklusif terpisahkan tebing tinggi yang hanya bisa ditempuh
dengan long tail boat. Lokasi Railay Beach yang tersembunyi
menjadi tempat sempurna bagi mereka yang mencari suasana tenang. Tebing
menjulang tinggi di Railay ini menjadikan surga bagi para climber dan adrenaline junkee. Daerah Railay bagian timur populer bagi para backpaker, sementara West Railay merupakan basis dari beberapa beach resort berbintang.
Setelah seharian snorkeling, kenyang menyantap seafood
murah, dan capek berjalan, pilihan bersantai pun jatuh ke tempat pijat
bernama Pu Body & Scrub Massage. Waktu telah menunjukkan pukul 10
malam tapi masih banyak yang mengantri di luar. Saya mencoba Thai
Massage dengan tarif 200 baht untuk 60 menit untuk menutup aktivitas.
Krabi dengan segala pesonanya membuat liburan saya lebih berwarna.
Jika ingin ke pantai cantik berpasir putih namun sudah bosan berdesakan
di keramaian, cobalah untuk mencari kejutan Anda sendiri di Krabi!
Tulisan ini pernah dimuat di website majalah Panorama
Tulisan ini pernah dimuat di website majalah Panorama
Sabtu, 11 Juni 2016
Field Report: 4D3N Bali + Nusa Lembongan (Day 2)
Setelah sampe di Hotel kita semua langsung tepar. Rencana buat ngeliat sunset di Sanur tinggal angan-angan soalnya kita semua bangunnya kesiangan. *nangis* Akhirnya selesai mandi, sarapan, beres-beres dan check out bertolaklah kami menuju Pantai Sanur. Bukan buat menlihat matahari kesiangan ya, telat! Tapi karena emang dermaga speedboat menuju Pulau Nusa Lembongan ada disana.
Sampai di temoat parkir mobil di Sanur berjalanlah kelurus sampai ke gerbang masuk lalu berbeloklah ke kiri. Di dekat kamar mandi umum ada papan keterangan harga tiket dari Sanur ke Nusa Lembongan maupun ke Nusa Penida. Jangan syok dulu lihat harganya, karena harga yang terpampang itu memang untuk turis mancanegara, untuk turis lokal seperti kami cukup dengan harga Rp.60.000 pulang pergi. Dalam sehari speedboat menuju Nusa Lembongan hanya beroperasi 2x jadi karena kami sudah booking hotel di Kuta maka kami langsung tolak sorenya pukul 15.00. So here we go...
Berangkat dari Sanur dengan speedboat dengan kapasitas 30 orang, rasa-rasanya justru berada di negeri orang deh. Karena penumpangnya hanya kami berempat dan kru kapal yang merupakan orang lokal, sisanya turis-turis mancanegara. Perjalanan membelah lautan dengan speed boat yang kadang membentur ombak harus dilewati dulu selama kurang lebih satu jam. Saya aja yang udah menyempatkan sarapan masih aja merasa mual, maka perjalanan ini sangat tidak disarankan untuk bumil.
Sesampainya di Jungut Batu, kapal kami merapat ke tanah baru baik di telinga maupun mata. Rupanya tak sia-sia kami pergi ke sini. Pasir putih dan refleksi langit biru di pantai yang tembus ke dasarnya menyambut kami. Setelah puas ber-narsis ria, petualangan pun kami lanjutkan dengan menyewa motor, satu-satunya pilihan transportasi disana. Jangan berharap bisa mampir ke mini market sewaktu-waktu kita lapar atau mengambil uang ketika persediaan habis ya. Datang kesini memang butuh persiapan matang dan bekal sebelum berangkat. Untungnya, kita sedia bekal makanan dan uang cash kemanapun.
Dalam perjalanan mengelilingi pulau seluas 3 hektar ini, kadang-kadang motor yang kami sewa seharga Rp. 50.000 per hari harus melewati jalan-jalan tanpa aspal. Namun semua itu terbayarkan karena hampir dimana-mana merupakan spot yang bagus untuk berfoto-foto. Tanpa disengaja, sampailah kami di Golden Reef Warung, tempat makan menghadap perairan landai di sekitar hutan bakau. Saya juga heran kenapa disebut warung, karena tempat ini terlalu cantik hampir sperti di sebuah resor! Setuju nggak?

Pemilik dari warung ajaib itu adalah Kapten Good (demikian beliau menyebut dirinya). Lelaki separuh baya asal desa setempat yang juga menggeluti usaha water activity. Beliau kemudian menawarkan kami snorkeling melewati Mangrove point dengan harga hanya Rp50.000 per orang. Setelah makan siang seafood yang lezat dan berfoto-foto di tepi warung istimewa ini kami pun setuju.
Segera kami menuju kapal milik Kapten Good ini, dan mulailah kami melewati hutan bakau menuju lautan. Kapten Good juga sangat ramah, beliau mau saja lho kita mintain tolong fotoin, dari mulai pakai snorkel mask, sampe underwater. hehehe…Ditengah-tengah snorkeling, bahkan karena kebaikan kapten Good ini kami bisa mencoba Marine Walk saat itu juga tanpa harus reserve dengan harga 1 juta untuk 3 orang! Hihihi so lucky. Oh ya nggak lupa saya juga minta kartu namanya Capatain Good ini so buat kalian yang pengen booking bisa langsung kontak nomor dan email dibawah ini ya :0
Setelah puas main air akhirnya kami harus balik ke Pulau Bali, padahal masih banyak pantai di Nusa Lembongan yang belum kami datangi. Namun apa daya kapal menuju Sanur sudah menunggu di Jungut Batu. Akhirnya kamipun karena kecapaian tertidur dalam perjalanan kembali.
Sekitar pukul 4 Sore kami sudah berada pusat keramaian Kuta. Hotel kedua kami adalah Pop Hotel Kuta. Walaupun hotelnya lebih baik dari yang di Denpasar (ada kolam renang)karena memang lebih tinggi ratenya Yang ternyata bukan pilihan yang bijak untuk menginap ketika kita menyewa mobil. Jalan menuju hotel sempit dan searah (Masuk ke dalam gang) Walaupun lokasi hotelnya juga luas. Mungkin penginapan disekitar situ emang ditujukan buat turis yang lebih banyak kemana-mana jalan kaki. Karena memang cukup dekat dengan pantai.
Tips: Kalau ingin menginap disini sewalah motor.
Akhirnya setelah bertahun-tahun di publish juga part 2 nya.. Semoga bisa lanjutin part 3ya :D
Sampai di temoat parkir mobil di Sanur berjalanlah kelurus sampai ke gerbang masuk lalu berbeloklah ke kiri. Di dekat kamar mandi umum ada papan keterangan harga tiket dari Sanur ke Nusa Lembongan maupun ke Nusa Penida. Jangan syok dulu lihat harganya, karena harga yang terpampang itu memang untuk turis mancanegara, untuk turis lokal seperti kami cukup dengan harga Rp.60.000 pulang pergi. Dalam sehari speedboat menuju Nusa Lembongan hanya beroperasi 2x jadi karena kami sudah booking hotel di Kuta maka kami langsung tolak sorenya pukul 15.00. So here we go...
Berangkat dari Sanur dengan speedboat dengan kapasitas 30 orang, rasa-rasanya justru berada di negeri orang deh. Karena penumpangnya hanya kami berempat dan kru kapal yang merupakan orang lokal, sisanya turis-turis mancanegara. Perjalanan membelah lautan dengan speed boat yang kadang membentur ombak harus dilewati dulu selama kurang lebih satu jam. Saya aja yang udah menyempatkan sarapan masih aja merasa mual, maka perjalanan ini sangat tidak disarankan untuk bumil.
Sesampainya di Jungut Batu, kapal kami merapat ke tanah baru baik di telinga maupun mata. Rupanya tak sia-sia kami pergi ke sini. Pasir putih dan refleksi langit biru di pantai yang tembus ke dasarnya menyambut kami. Setelah puas ber-narsis ria, petualangan pun kami lanjutkan dengan menyewa motor, satu-satunya pilihan transportasi disana. Jangan berharap bisa mampir ke mini market sewaktu-waktu kita lapar atau mengambil uang ketika persediaan habis ya. Datang kesini memang butuh persiapan matang dan bekal sebelum berangkat. Untungnya, kita sedia bekal makanan dan uang cash kemanapun.


Pemilik dari warung ajaib itu adalah Kapten Good (demikian beliau menyebut dirinya). Lelaki separuh baya asal desa setempat yang juga menggeluti usaha water activity. Beliau kemudian menawarkan kami snorkeling melewati Mangrove point dengan harga hanya Rp50.000 per orang. Setelah makan siang seafood yang lezat dan berfoto-foto di tepi warung istimewa ini kami pun setuju.

Setelah puas main air akhirnya kami harus balik ke Pulau Bali, padahal masih banyak pantai di Nusa Lembongan yang belum kami datangi. Namun apa daya kapal menuju Sanur sudah menunggu di Jungut Batu. Akhirnya kamipun karena kecapaian tertidur dalam perjalanan kembali.
Sekitar pukul 4 Sore kami sudah berada pusat keramaian Kuta. Hotel kedua kami adalah Pop Hotel Kuta. Walaupun hotelnya lebih baik dari yang di Denpasar (ada kolam renang)karena memang lebih tinggi ratenya Yang ternyata bukan pilihan yang bijak untuk menginap ketika kita menyewa mobil. Jalan menuju hotel sempit dan searah (Masuk ke dalam gang) Walaupun lokasi hotelnya juga luas. Mungkin penginapan disekitar situ emang ditujukan buat turis yang lebih banyak kemana-mana jalan kaki. Karena memang cukup dekat dengan pantai.
Tips: Kalau ingin menginap disini sewalah motor.
Akhirnya setelah bertahun-tahun di publish juga part 2 nya.. Semoga bisa lanjutin part 3ya :D
Jumat, 10 Juni 2016
Lactacyd Baby : Sahabat kulit sensitif anakku.
Apa salah satu syarat penting agar bayi sehat? Cukup Tidur.
Begitulah penggalan artikel kesehatan yang saya baca. Sepertinya cukup mudah ya memastikan anak kita cukup
istirahat. Namun ternyata pada prakteknya poin ini sedikit
sulit saya penuhi karena sejak kecil seringkali malam hari Aksa terbangun dan
menggaruk badannya yang kemerahan. Dan ternyata menurut beberapa sumber, kurang tidur bisa mengganggu tumbuh
kembang si kecil. Itulah kenapa saya concern dengan masalah kulitnya karena saya mengalami sendiri masalah kulit sensitif bayi yang tidak tertangani dengan baik.
Permasalahan kulit sensitif Aksa sudah terlihat pada tiga hari umurnya. Tiba-tiba muncul kemerahan
di muka dan tidurnya pun mulai tak nyenyak. Tak tega melihatnya, suami dan saya memutuskan pada hari ke 5
usianya membawa dia ke dokter spesialis anak. Dokter berkesimpulan Aksa punya kulit sensitif dan punya bakat alergi debu. Dokter menyarankan agar kamar selalu dalam keadan sejuk dan menghindari selimut serta boneka berbulu. Saat itu dokter juga meresepkan
anti-histamin, ah sedihnya, di usia yang baru bisa dihitung dengan jari Aksa sudah harus berkenalan dengan obat-obatan.
Muka Aksa merah-merah :( |
Apakah masalahnya selesai disitu?
Ternyata mimpi buruk itu
berlanjut ketika Aksa sudah mulai naik berat badannya dan liatan-lipatan di
tubuhnya sering berkeringat. Padahal saat itu kami tinggal di wilayah kaki
gunung Merbabu, yang notabene sangat dingin. Kulit sensitifnya juga bermasalah ketika memakai popok sekali pakai yang tak cocok. Selain ruam popok, mulai timbul bintik-bintik
merah dibawah liapatan dagunya. Ketika kami berkunjung kembali ke dokter, kami disarankan mengganti
sabun mandinya dan mengoleskan baby cream di bagian yang tertutup pospak. Saat itu dokter merekomendasikan untuk membeli sabun produksi
Jerman yang bagi saya memang cukup menguras kantong. Tapi tetap hal itu tak bertahan
lama, kulitnya semakin kering dan justru timbul biang keringat. Ibu mertua saya menyarankan
memakai bedak dingin, tepung sagu, dan bahkan kayu secang untuk rendaman mandi
Aksa. Yang ada Aksa justru ketakutan melihat airnya menjadi berwarna merah.
Bekas garukan yang jadi infeksi :( |
Sebagai ibu saya sungguh pernah merasa gagal.
Apalagi bekas garukan sempat menjadi infeksi yang cukup meluas di sekitar ketiak yang memaksa
kami harus berkunjung kembali ke dokter spesialis kulit. Karena infeksinya
mulai bernanah dan demam Aksa harus minum antibiotik. Sedih sekali melihat anak yang
ceria itu sering rewel karena pasti daerah lesi infeksinya perih sekali jika tergesek bajunya. :(
Belum menemukan solusi sampai Aksa semakin besar, kami
ternyata harus pindah ke Jakarta karena ada mutasi di tempat kerja suami. Di sini
udara semakin panas, dan biang keringat Aksa semakin menjadi. Tak hanya
di dahi, di perut, tangan kakinya, di kepalanya pun muncul bisul-bisul kecil seperti jerawat. Kembali lagi
kadang kami harus begadang karena tengah malam dia menangis dan mengeluh gatal
sambil kami berusaha menaburkan bedak antiseptic-berharap mengurangi penderitaannya . Tapi hal itu tetap terus
berulang ketika cuacanya sangat panas atau terjadi perubahan cuaca.
Ternyata Tuhan telah menyiapkan jawaban segala usaha kami dibalik kepindahan ke Jakarta. Untunglah kami bertemu dokter anak yang pro RUM (Rasional Used Medicine) yang
bukannya meresepkan obat-obatan justru menyarankan kami membeli Lactacyd Baby. Awalnya saya pesimis, karena selama ini usaha kami yang sudah
mengeluarkan biaya tak sedikit tak membuahkan hasil. Tapi toh nothing to lose,
kami kemudian beralih ke Lactacyd Baby untuk mandi Aksa.
Pertama kalinya memakai Lactacyd
sedikit terkejut ternyata harganya cukup terjangkau dan tersedia di apotek-apotek ternama. Konsistensi isinya yang
cair, tidak kental dan tidak berbusa seperti sabun kebanyakan
yang mengandung banyak detergen. Kalau masalah wangi menurut saya relatif. Kalau saya sih suka baunya alami, Lactacyd baby ini aromanya segar seperti kulit bayi,
tidak terlalu tajam, yang berarti tak terlalu banyak parfum dan bahan kimia.
Aksa suka sekali memakai Lactacyd ini karena rasanya moist dan lembut di kulit,
selain juga saya senang karena bisa digunakan di kulit kepala seperti memakai
shamphoo.
Ajaibnya, selang beberapa hari
saja bintik-bintik merah itu memudar, jerawat-jerawat kecil di kepala
sedikit-sedikit menghilang dan kulit kasarnya tergatikan dengan kulit lembut.
Saya sempat takjub tak percaya. Akhirnya semenjak saat itu kami selalu mempercayakan
perawatan kulit Aksa pada Lactacyd Baby yang terbukti memiliki pH 3-4 yang seimbang
dan cocok untuk kulit sensitif. Syukurlah setelah dua tahun berkutat dengan masalah kulitnya, ternyata selama ini solusi untuk biang keringat yang cocok untuk
kulit sensitif anakku adalah Lactacyd Baby.
Selain menggunakan Lactacyd baby,
berikut beberapa tips untuk mengatasi biang keringat pada anak yang memiliki
kulit sensitif berdasarkan pengalaman saya:
- Sering ganti pakaian dan lap badan anak ketika dia berkeringat
- Mandikan dengan air dingin, kalaupun sedang sakit, mandikan dengan air yang tak terlalu panas karena bisa memperparah biang keringatnya.
- Jika tak terpaksa hindari menggunakan minyak dan lotion pada kulitnya yang sensitif
- Selalu jaga kukunya tetap pendek karena gatal-gatal bisa datang kapan saja sebelum kita menemukan penyebabnya.
Begitulah pengalaman
Aksa menggunakan Lactacyd Baby, semoga bermanfaat bagi ibu-ibu lain yang
mengalami permasalahan sama. Sekarang kulit Aksa kembali berseri dan bisa tidur lebih nyenyak di malam hari. Terimakasih ya Lactacyd Baby :)
![]() |
Kembali ceria |
Langganan:
Postingan (Atom)