Halaman

Tampilkan postingan dengan label Sedekahyuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sedekahyuk. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2012

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia.
Banyak orang mencarinya di toko-toko elektronik, membeli gadget shopisticated, memakai baju bagus, mobil terbaru, namun yang didapatkan bukannya bahagia justru rasa frustasi karena esoknya ada gadget yang lebih canggih , baju yang lebih trendy, mobil yang lebih oke. Termasuk saya, kadang sering lama melihat ke atas, 'Wah enak ya jadi Paris Hilton, cantik kaya, pewaris harta triliunan rupiah' Tapi ternyata di suatu artikel Paris pernah bilang 'I'd kill to be Victoria Becham'. Yah begitu seterusnya hingga akhirnya lelah dan lupa mensyukuri bahwa dibawah sana juga ada yang menginginkan menjalani hidup seperti kita.  

"Urip kui sawang sinawang Nduk... " kata bapak. He's right! 

Dave Ramsey dalam bukunnya Total Money Makeover bilang 'We buy things we don't need with money we don't have to impress people we don't like.'

Yah the power of advertising! Manipulating people with visual image to provoke our brain  to think that 'we need to buy that, in order to be superior, happy and fulfilled' . Kalau kita selalu merasa kurang dan nggak mensyukuri apa yang kita miliki sekarang belum tentu kita bakal ngerasain hidup seperti sekarang lagi. Life's like a damn wheel. Yakalo muter keatas lagi, kalo pas lagi dibawah ban-nya kempes gimana? :D

Nah salah satu cara untuk mensyukuri itu adalah merasalah diri kita kaya ketika melihat orang yang lebih susah dari kita. Bohongi diri kita seakan kita masih punya simpanan jutaan dolar di swiss dalam membantu orang. Well setidaknya itu sudah saya praktekan bersama teman-teman saya sejak masih kuliah. Saat itu awalnya saya cuma curhat saja sama Imeh (Hemy Suzana) dan Jo (Jotika Purnama) yang sama-sama masih minta saku orang tua, sama2 puasa kalo lagi uang bulanan habis hiihihii. Saya cerita kalau di sekitar kampus ada anak yang hampir putus sekolah karena masalah biaya. Akhirnya kami pun sepakat membentuk ISO 5000 (independen solidarity 5000) konsepnya sih sederhana sebenernya cuma nyisihin 5000 perbulan aja secara kolektif. kenapa 5000? karena kami mikir ga berat kan sebulan sekali (paling puasa tempe mendoan 5 biji di warteg :D). Walaupun kemudian peminatnya banyak sampe ratusan di grup facebook tapi tetep kita kewalahan mengkoordinir. Sebeneranya tujuan kami adalah mengajak dan mengedukasi temen-temen untuk menanamkan jiwa sharing secara teratur setiap bulannya, sedikit maupun banyak. Tapi pada prakteknya temen-temen  sering ribet kalau harus nyerahin 5000 doang ke kampus/ transfer (termasuk saya). Misal dari fakultas lain ingin membantu kami juga agak kerepotan dalam mengumpulkan dana, karena nggak ada posko, atau meeting point  dan kadang ga ada transport karena semuanya pro bono dan duit sendiri. Tapi hebatnya ada juga yang rajin slash niat banget ampe niat ngirim pulsa 5000 tiap bulan demi donasi, ada yang transfer 50.000-1 juta yah walaupun sebenernya nggak sesuai tujuan karena habis itu nggak donasi lagi hehehe.. but we reallly  thank you for that. Hingga akhirnya kita semua udah lulus dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing kadang juga adu argumen hehhe.  . Yayyya, But the truth is it's all worthed. Ajaibnya dengan segala kekurangan yang ada kita udah sukses nyekolahin 2 orang sampe 3 tahun ini! Hampir 3 tahun saya menginjakkan rumah Fahmi lagi, masih sama keadaanya, rumah mungil dengan tumpukan bahan konveksi disana-sini, nggak ada perubahan yang signifikan. I never go to heaven but I think it is heavenly ketika ngeliat anak-anak itu sekarang udah tumbuh dewasa, penuh senyum menyambut kami di rumahnya, ibu yang mendoakan kami sambil berkaca-kaca berkata 'Terima kasih bantuannya selama ini' Dalam hati saya bilang 'Honestly,  I'm the one who was so lucky to meet you because I can be useful for others.' ;')

Pada kesempatan ini saya ingin berterimakasih untuk teman-teman yang selama ini sudah membantu dalam program ini, khusunya Imeh dan Jo : you're guys are my hero and heroine. Juga pada sedekahyuk.blogpot.com, bantuan periode kemarin kami sangat terbantu sekali dengan bantuan dari yang digalang oleh kawan saya Charolline Ferra. Dan kedepannya alhamdulillah program ISO 5000 akan dibantu oleh tim Bahagia Berbagi Sol dengan pimpro Greget Kalla Buana . Bahagia Berbagi ini juga charity independent yang patut diacungi jempol, karena mereka sedang menggalang dana untuk membeli ambulance untuk buat kaum dhuafa secara cuma-cuma. Thanks guys for sharing happiness together.

Dengan segala kesulitan yang kami hadapai sebenarnya salah kalau ada yang berfikir 'Ah nanti bakal sedekah kalo udah kaya' justru terbalik karena sedekah itu merupakan jalan menuju kekayaan. Saya nggak hafal kalo dalil secara agamanya yah :D. Secara ilmiah juga sudah dibuktikan kalo sedekah bisa memperbaiki kekebalan tubuh dan menambah serotonin (hormon kebahagiaan).  But so far yang saya alami sendiri, sedekah itu investasi yang nggak pernah turun suku bunganya. :)


Rabu, 21 Maret 2012

Nobody wants to be lonely.


Mbah Diro. Seorang dhuafa renta yang tinggal di sebuah kampung di Kelurahan Kerten, Solo. Setelah tertunda sampai beberapa saat karena kesibukan kami berdua, akhirnya kami, (Saya dan Leoni Bunga) menyempatkan diri menyampaikan bantuan dari Sedekah Yuk, ksebuah non profit cause independen yang bergerak memberi bantuan pada kaum dhuafa dan fisabillialah. Akses menuju rumah beliau cukup sulit, hanya lorong sempit berukuran sekitar 1 meter di belakang rumah-rumah yang menyembunyikan kediaman beliau. Kalau memang tidak dengan sengaja melewati jalan itu, pasti tidak seorangpun tahu ada kehidupan di rumah tua berukuran 6x8 meter itu.





Ketika kami datang, pintu rumah mbah Diro sudah terbuka lebar. Dan, jangan berharap pemandangan rumah dengan ruang tamu dan dapur terpisah, disana tempat tidur, meja makan , dapur jadi satu. Dan kami dapat melihat beliau sedang tertidur di-dipan-nya yang lusuh, senada dengan seluruh perabotan tua- di dalam rumahnya yang tanpa ubin. Awalnya kami ragu-ragu, apakah harus membangunkannya atau datang lain kali. Mengingat kesibukan kami, kami tidak yakin bisa datang lagi dalam waktu dekat kesana. Akhirnya kami beranikan untuk mengetuk pintu kayunya dan mengucap salam- berharap dalam hati si embah tidak terkejut karena kami bangunkan. Mengetuk dan salam sampai beberapa kali, dengan volume yang sedikit kami keraskan mengingat pendengaran beliau sudah berkurang.





Akhirnya beliau terbangun dan langsung mempersilahkan kami masuk, walaupun beliau sudah tidak kuasa untuk bergegas bangun dan menyambut kami namun keramahannya dalam menerima kami tampak dari usahanya untuk segera bangun dan duduk di tepi ranjangnya. Kamipun menghampirinya, beliau duduk membelakangi cahaya dari jendela tuanya. Baru setelah kami mendekat terlihat jelaslah seluruh kelelahan dalam wajahnya, tergambar di tubuhnya yang kurus kering, namun begitu masih menyisakan guratan kecantikan di masa mudanya.




Tanpa membuang waktu, karena matahari sudah semakin rindu pada peraduannya, kami langsung mengutarakan maksud kedatangan kami dan kemudian menyerahkan bantuan dari Sedekah Yuk. Dengan tangan bergetar mbah Diro menerima uang tersebut, entah itu karena parkinson, Arthritis , penyakit yang biasa diderita kaum geriatis atau karena beliau terharu. Namun hati saya trenyuh ketika beliau langsung mengucap takbir 'AllahuAkbar', sambil menggengam tangan sahabat saya, Leonie. Tak bisa dipungkiri beliau nampak bahagia menerima sedekah tersebut dan dengan berkaca-kaca mendoakan kami semua serta bercerita tentang bagaimana selama tujuh tahun ini dia hidup sendiri tanpa suami dan anak dan hanya ditemani tongkat yang membantunya berjalan setelah satu kakinya pernah cidera garapgara terjatuh. Tujuh tahun sendiri tanpa anak dan keluarga? Kupikir cuma orang kuat yang mendapatkan cobaan seperti itu dan tetap berjuang melewatinya. Selama tujuh tahun ini beliau kadang tidak punya nasi untuk dinanak, dan makan dari buah, umbi, dan daun yang tumbuh sekitar rumahnya. Walaupun sebagian beesar dari komunikasi kami banyak kendalanya karena keterbatasan indra pendengaranya- maklum mbah Diro sudah hidup dari jaman penjajahan, entah berapa lama dia hidup karena dia sendiri tak bisa mengingat umurnya. Kamipun pamit tak selang beberapa waktu karena hari sudah mulai senja.
 
Well, jujur saja di malam dingin berangin kencang seperti ini, saya teringat beliau, apa rumah separuh papan beliau baik-baik saja, apa yang beliau makan ataukah siapa yang beliau ajak bicara ketika hari dingin seperti sekarang. Semua itu membuat saya begitu bersyukur selalu berada dalam kecukupan dan kehangatan keluarga kekasih dan teman. Nikmat yang tidak mungkin saya dustakan dan akan selalu saya mohonkan agar bertahan selamanya, karena saya yakin di dunia ini tak ada yang ingin hidup sendirian.